Anak Punk Dituduh 'Bjorka', CTD Bongkar Fakta Mengejutkan soal Dunia Gelap Peretasan Indonesia
--
RADARTVNEWS.COM — Dunia maya Indonesia kembali dihebohkan. Seorang anak punk ditangkap polisi karena disangka sebagai hacker paling dicari, Bjorka.
Namun, lewat podcast Close The Door (CTD) terbarunya, Deddy Corbuzier bersama nara sumber membongkar kisah di balik layar yang tak kalah mengejutkan, ternyata yang ditangkap bukanlah sang peretas viral, melainkan seseorang yang bahkan tak paham teknologi.
Dalam episode berjudul “Itu Polisi Nangkep Anak Punk!!, Saya Tahu Bjorka”, Deddy bersama seorang praktisi keamanan siber membeberkan fakta bahwa individu yang diamankan aparat hanyalah seorang pengunggah ulang konten, alias “Skywave”.
“Orang ini bukan hacker, cuma anak punk yang salah tangkap,” ujar sang narasumber sambil tertawa getir.
Percakapan pun berkembang menjadi bahasan serius tentang rapuhnya sistem keamanan siber Indonesia. Narasumber menjelaskan bahwa Bjorka, yang sempat mengguncang dunia maya lewat kebocoran data besar-besaran, diyakini adalah warga Indonesia sendiri.
“Dari cara dia menulis bahasa Inggris, kelihatan banget struktur bahasanya khas Indonesia,” jelasnya.
Bjorka disebut menjual data pribadi seharga ribuan dolar, dan terkadang menyebarkannya secara gratis untuk menarik perhatian publik.
Dalam podcast CTD diungkap praktik ini dinilai berbahaya, apalagi di tengah rendahnya kesadaran digital masyarakat dan lemahnya sistem perlindungan data nasional.
“Bahkan data kita di lembaga pemerintah pun gak selalu terenkripsi,” tambah narasumber.
Podcast ini juga menyingkap potret para peretas muda Indonesia yang tak kalah hebat dari pelaku global.
Mereka disebut punya kemampuan luar biasa, namun banyak di antaranya justru tersesat ke jalur gelap karena kurangnya wadah dan perhatian negara.
"Anak-anak ini bukan jahat, mereka pintar — tapi karena tidak ada yang membimbing, akhirnya dimanfaatkan pihak lain,” ujar sang ahli.
BACA JUGA:Ramai Narasi “Matematika Tersulit Rp 2 Juta Dibagi 30 Hari”, Begini Realitasnya
Deddy pun mengangkat fenomena ironi lain: di saat pemerintah gagap menghadapi ancaman siber, sektor swasta justru lebih siap.
Perusahaan-perusahaan besar telah menanam investasi besar untuk sistem keamanan digital mereka, sementara lembaga negara masih sering kebobolan.
“Yang lucu, kalau data swasta bocor bisa dituntut, tapi kalau data pemerintah bocor… ya sudah, dianggap biasa,” sindir sang narasumber.
Tak hanya itu, mereka juga membahas bahaya aplikasi pesan populer seperti WhatsApp dan Telegram. Menurut narasumber, tidak ada aplikasi yang benar-benar aman. Bahkan pesan yang dihapus bisa dikembalikan, dan versi modifikasi seperti WA Mod justru membuka celah besar bagi peretas.
“Masalahnya bukan aplikasinya, tapi perilaku kita yang sembarangan,” tegasnya.
Menutup percakapan, Deddy dan tamunya menyerukan agar aparat penegak hukum lebih berhati-hati. Kasus salah tangkap anak punk disebut sebagai pelajaran penting agar penyelidikan digital dilakukan dengan akurasi tinggi dan bukti valid.
“Kalau salah tangkap, efeknya bisa menghancurkan hidup seseorang — apalagi kalau cuma karena salah baca data,” tutup sang narasumber.
Lewat gaya santai namun tajam, podcast ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membuka mata publik tentang betapa rapuhnya pertahanan digital Indonesia.
Di era data jadi komoditas baru, kesadaran akan keamanan siber bukan lagi pilihan — tapi keharusan.
BACA JUGA:Ramai Narasi “Matematika Tersulit Rp 2 Juta Dibagi 30 Hari”, Begini Realitasnya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
