BANNER HEADER DISWAY HD

Raim Laode & Aruma Satukan Suara untuk Ceritakan Luka di "Ekspektasi"

Raim Laode & Aruma Satukan Suara untuk Ceritakan Luka di

Ekspektasi--ISTIMEWA

RADARTVNEWS.COM - Penyanyi sekaligus komuka Raim Laode kembali menunjukkan sisi musikalnya lewat sebuah kolaborasi manis bersama penyanyi muda berbakat Aruma. Keduanya merilis lagu berjudul “Ekspektasi”, sebuah karya yang meski tidak terlalu ramai diperbincangkan di permukaan, namun menyimpan makna mendalam tentang hubungan dan cinta yang sering kali dialami banyak orang, khususnya anak muda. 

Ekspektasi berbicara tentang harapan-harapan yang kerap kita letakkan pada pasangan. Dalam kisah cinta, terutama di usia muda, seseorang biasanya menyimpan banyak bayangan ideal seperti ingin diperhatikan, dipahami, bahkan dicintai sesuai dengan imajinasinya sendiri. Namun, realitas tidak selalu sejalan dengan harapan itu. Lagu ini seolah menjadi pengingat bahwa cinta bukan hanya soal memenuhi ekspektasi, tetapi tentang bagaimana kita bisa menerima pasangan apa adanya. 

Duet mereka bukan hanya soal menyatukan suara, melainkan menyatukan dua perspektif yang berbeda. Aruma hadir dengan nuansa feminim yang penuh perasaan, sementara Raim membawa warna maskulin yang sederhana, apa adanya, dan tulus. Perpaduan ini berhasil menciptakan harmoni yang kuat, seakan benar-benar menggambarkan dialog antara dua hati yang sedang berusaha saling memahami.

BACA JUGA:Mitos atau Fakta? Rahasia di Balik Kebiasaan Makan Malam

Tidak semua lagu lahir untuk sekadar dinyanyikan. Ada yang tercipta untuk menjadi cermin, menampar pelan hati pendengarnya, dan membuat mereka sadar bahwa cinta tidak pernah sesederhana harapan. Itulah yang terjadi lewat Ekspektasi, duet indah Raim Laode bersama penyanyi muda Aruma.

Sejak bait pertama, lagu ini sudah menelanjangi perasaan banyak orang yang pernah mencintai dengan sepenuh hati, namun pada akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan. Aruma menyanyikan lirih, “Ekspektasiku terlalu tinggi, sampai ku jatuh cinta padamu. Banyak bicara tentang cinta, tetapi semuanya tak nyata. Ekspektasiku terlalu jauh, terlalu banyak mengharapkanmu, hingga ku tahu semua, ternyata semua buatku luka.”

Kalimat itu seolah mewakili hati mereka yang pernah percaya penuh pada seseorang. Ada keinginan untuk dicintai lebih, dipahami lebih, dimiliki sepenuhnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: cinta berbalik menjadi luka. Aruma menyuarakan kerapuhan, suara mereka yang diam-diam menangis karena kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan.

Namun Raim Laode hadir dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan nada yang tulus dan hangat, ia membalas, “Bukan ekspektasimu yang meninggi, hanya usia kita yang muda. Belum mengerti tentang cinta, masih meraba tentang dunia. Kau tak kan mengerti yang kurasa, banyak ekspektasi yang kujaga, hingga ku tahu semua, ternyata semua buatmu luka.”

Jawaban Raim adalah potret kejujuran seorang anak muda yang belum matang dalam cinta. Ia tidak menyalahkan siapa pun, tetapi mengakui bahwa ada keterbatasan usia, pengalaman, bahkan kedewasaan. Bahwa cinta bukan sekadar janji indah, melainkan proses belajar yang panjang. Dan dalam proses itu, luka tak jarang menjadi guru paling jujur.

Keindahan Ekspektasi justru terletak pada dialog ini. Lagu ini tidak menempatkan siapa pun sebagai pihak yang salah. Ia hanya menggambarkan dua hati yang saling mencintai, tetapi terjebak dalam perbedaan. Yang satu berharap terlalu banyak, yang lain belum mampu memberi sebanyak itu. Pertemuan keduanya menimbulkan luka, namun juga membuka ruang untuk memahami: cinta adalah tentang keseimbangan, bukan hanya ekspektasi.

Bagi banyak pendengar muda, lagu ini begitu relevan. Mereka yang pernah jatuh cinta di usia belia tahu betul bagaimana rasanya menginginkan segalanya sempurna, padahal kenyataan selalu punya cara untuk menggugurkan mimpi. Lagu ini mengajarkan bahwa mencintai bukan berarti menuntut, dan berharap bukan berarti memaksa.

Aruma dan Raim berhasil menyampaikan perasaan itu dengan harmoni suara yang saling melengkapi. Aruma dengan kelembutan yang rapuh, Raim dengan ketulusan yang sederhana. Keduanya seakan benar-benar sedang berbicara, saling mengungkapkan isi hati, dan membiarkan pendengar ikut hanyut dalam percakapan mereka.

Ekspektasi mungkin tidak menjadi lagu yang selalu diputar di kafe atau mendominasi tangga lagu, namun justru di situlah letak kekuatannya. Lagu ini bukan sekadar hiburan, tetapi pengalaman emosional. Ia hadir sebagai pengingat bahwa cinta tidak selalu indah, dan kadang justru meninggalkan luka. Tapi dari luka itu, kita belajar, tumbuh, dan akhirnya mengerti bahwa cinta sejati tidak pernah lahir dari ekspektasi semata.

BACA JUGA:Judi Online Internasional Dibongkar Bareskrim Polri

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: