AI Psychosis dan Kekhawatiran Baru di Balik Cara Orang Berinteraksi dengan Chatbot

AI Psychosis dan Kekhawatiran Baru di Balik Cara Orang Berinteraksi dengan Chatbot

Ilustrasi perempuan menatap Ponsel-Magnific-

RADARTVNEWS.COM - Ada perubahan kecil yang mulai sering terlihat di ruang digital: orang tidak hanya memakai AI untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga untuk berbicara.

Dari sekadar alat bantu, chatbot kini perlahan menjadi tempat bercerita bagi sebagian pengguna, hal hal seperti ruang percakapan yang terasa selalu ada, selalu merespons, dan tidak pernah benar-benar menolak.

Di tengah tren tersebut, istilah “AI psychosis” mulai ramai muncul dalam diskusi internet. 

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran ketika seseorang terlalu larut dalam interaksi dengan AI hingga batas antara percakapan digital dan realitas sehari-hari mulai terasa kabur.

Meski begitu, istilah ini bukanlah diagnosis medis resmi. Di ruang digital, ia lebih sering digunakan sebagai label untuk menandai satu hal yang sama: perubahan cara manusia merespons kehadiran teknologi yang semakin “manusiawi”.

Sebab chatbot modern kini tidak lagi sekadar menjawab. Ia merespons dengan cepat, menyusun kalimat yang natural, dan menyesuaikan gaya bicara pengguna. 

BACA JUGA:Penggunaan Teknologi AI di Dunia Pendidikan Meningkat, Metode Belajar Digital Jadi Tren Baru Siswa

Dalam banyak kasus, interaksi itu terasa seperti percakapan yang benar-benar dipahami.

Dan di titik itu, garis batas pun mulai bergeser.

Di TikTok, Reddit, hingga X, percakapan tentang intensitas penggunaan AI semakin sering muncul. 

Ada yang memanfaatkannya untuk menemani waktu malam, ada yang menjadikannya ruang utama untuk bercerita, bahkan ada pula yang merasa lebih nyaman berbicara dengan AI dibandingkan dengan orang di sekitarnya.

Bukan karena AI menggantikan manusia. Tetapi karena AI selalu tersedia ketika manusia tidak.

Di sisi lain, sebagian pihak menilai fenomena ini sebagai bagian dari evolusi interaksi digital. Namun sebagian lainnya melihatnya sebagai tanda bahwa manusia kini mulai membangun ruang emosional baru yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hubungan antarmanusia.

Yang menarik, perdebatan ini bukan lagi soal kemampuan teknologi, tetapi soal kebiasaan manusia dalam mencari rasa “didengar”.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: