Eldest Daughter Syndrome: Saat Anak Perempuan Sulung Terpaksa Kuat

Eldest Daughter Syndrome: Saat Anak Perempuan Sulung Terpaksa Kuat

Sung Bo Ra dari Drama Korea Reply 1988 yang Menjadi Icon Anak Pertama Perempuan.--Pinterest

RADARTVNEWS.COM — Di banyak keluarga, anak perempuan pertama sering tumbuh dengan peran yang tidak pernah benar-benar ia pilih.

Ia disebut mandiri. Ia dianggap dewasa. Ia dipercaya bisa menjaga adik, membantu ibu, memahami ayah, dan mengalah ketika situasi rumah sedang tidak baik-baik saja. Dari luar, semua itu tampak seperti bentuk kedewasaan. Padahal, tidak sedikit yang tumbuh sambil memikul beban emosional yang diam-diam terlalu besar untuk usianya.

Fenomena ini belakangan ramai dibicarakan dengan istilah Eldest Daughter Syndrome.

Meski bukan diagnosis medis resmi, istilah ini cukup populer untuk menggambarkan pengalaman psikososial yang sering dialami anak perempuan pertama dalam keluarga. Mereka kerap berada di posisi sebagai sosok yang “paling bisa diandalkan”, bahkan sejak kecil.

Banyak anak perempuan sulung terbiasa mengambil peran pengasuh, menjadi penengah konflik keluarga, hingga memikul ekspektasi tinggi dari orang tua. Dalam beberapa situasi, mereka bukan hanya diminta membantu, tetapi juga secara tidak langsung diposisikan seperti “orang tua kedua” di rumah.

Tanpa disadari, banyak anak perempuan pertama tumbuh dalam pola keluarga yang membentuk mereka untuk selalu siap, selalu kuat, dan selalu mengerti. Mereka dibiasakan untuk tidak banyak mengeluh, tidak merepotkan, dan tidak menuntut terlalu banyak ruang untuk dirinya sendiri.

Dalam banyak budaya, anak perempuan sulung sejak lama sering dipandang sebagai penjaga rumah, sosok yang harus patuh, bisa merawat, serta tahu kapan harus mengalah. Struktur keluarga seperti ini membuat mereka sering dibentuk menjadi pribadi yang paling bertanggung jawab, bahkan ketika belum cukup umur untuk memahami semua beban yang dititipkan.

Karena itulah, tidak heran jika banyak anak perempuan pertama tumbuh menjadi sosok yang terlihat sangat matang. Mereka sering dikenal perfeksionis, sulit berkata “tidak”, terbiasa mendahulukan orang lain, dan cenderung ingin memastikan semuanya berjalan baik.

Namun, di balik citra “anak yang kuat”, sering ada sisi yang jarang dibicarakan.

Banyak dari mereka menyimpan overthinking, self-criticism, rasa bersalah saat mengecewakan orang lain, hingga perasaan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar cukup. Mereka terbiasa menjadi tempat bersandar, tapi jarang tahu ke mana harus bersandar.

Dalam hubungan, mereka cenderung menjadi caregiver atau pihak yang lebih banyak memahami. Dalam pertemanan, mereka sering jadi pendengar dan penolong. Dalam karier, mereka mudah terdorong untuk overwork karena merasa harus selalu bisa diandalkan. Bahkan, saat ingin memilih dirinya sendiri pun, rasa bersalah kerap datang lebih dulu.

Mereka hebat dalam memimpin, tangguh dalam bertahan, dan sering terlihat paling siap menghadapi hidup. Tetapi di saat yang sama, banyak dari mereka juga kehilangan ruang untuk sekadar menjadi manusia biasa yang boleh lelah, boleh bingung, dan boleh tidak selalu kuat.

Itulah mengapa Eldest Daughter Syndrome seharusnya tidak dipahami sebagai kelemahan.

Ini bukan soal “terlalu baper” atau “tidak tahan tekanan”. Ini adalah hasil dari ekspektasi, budaya, dan peran yang dibentuk sejak kecil, lalu terus melekat hingga dewasa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait