Workation, Gaya Liburan Akhir Tahun Favorit Gen Z: Kerja Jalan, Healing Jalan
Ilustrasi--Istimewa
RADARTVNEWS.COM - Menjelang akhir tahun, banyak orang mulai menandai kalender mereka untuk waktu libur panjang. Namun bagi sebagian pekerja muda, terutama generasi Z, liburan kini tidak selalu berarti benar-benar lepas dari pekerjaan. Fenomena workation—gabungan antara work (kerja) dan vacation (liburan) justru kembali jadi tren menjelang penutupan tahun 2025.
Konsep workation memungkinkan seseorang tetap produktif sambil menikmati suasana baru di tempat wisata. Cukup dengan laptop, koneksi internet stabil, dan segelas kopi dingin, mereka bisa bekerja di tepi pantai, di tengah udara sejuk pegunungan, atau bahkan dari balkon vila dengan pemandangan sawah yang tenang.
Berdasarkan laporan Traveloka Workstyle Index 2025, lebih dari 60 persen pekerja muda Indonesia memilih workation sebagai cara berlibur akhir tahun. Mereka menilai bekerja di tempat baru dapat meningkatkan fokus, ide segar, dan semangat. Beberapa bahkan menyebut workation sebagai bentuk self-reward (bekerja tanpa tekanan), tapi tetap produktif sambil menikmati hidup.
Destinasi seperti Bali masih menjadi pilihan utama bagi para digital nomad. Namun kini, tren serupa mulai terlihat di Yogyakarta, Bandung, Malang, hingga Lombok, yang menawarkan suasana tenang, kuliner lokal yang unik, dan penginapan dengan fasilitas kerja yang lengkap. Sejumlah hotel dan coworking space juga mulai menyesuaikan diri dengan menyediakan ruang kerja bersama, koneksi Wi-Fi cepat, hingga paket promo “work from paradise”.
BACA JUGA:Staycation Gaya Eropa Berpadu Budaya Bali, Kunjungi Lummay Villa and Resort Lampung Selatan
Selain itu, konsep workation turut mendorong munculnya istilah baru, yaitu slow travel. Alih-alih berpindah kota setiap hari, banyak pekerja muda kini memilih untuk tinggal lebih lama di satu tempat agar bisa menikmati keseharian warga lokal sembari tetap menjalankan rutinitas kerja.
BACA JUGA:Fenomena Work From Anywhere, Fleksibilitas Kerja Tanpa Batas Lokasi
Meski terdengar ideal, workation juga memiliki tantangan tersendiri. Beberapa orang mengaku sulit memisahkan waktu kerja dan waktu istirahat. Ketika laptop terbuka, fokus bisa beralih dari santai menjadi sibuk dalam hitungan detik. Karena itu, para ahli menyarankan agar pelaku workation tetap membuat batas waktu yang jelas antara jam kerja dan waktu santai, agar tidak kehilangan esensi liburan.
Tren workation diyakini akan terus meningkat pada 2026, seiring semakin banyak perusahaan yang menerapkan sistem kerja hybrid. Fleksibilitas ini membuka peluang baru bagi generasi muda untuk merancang keseimbangan hidup yang lebih sehat, bekerja dari mana saja, tapi tetap punya waktu menikmati hidup.
Pada akhirnya, workation bukan sekadar gaya hidup modern, tapi juga simbol kebebasan generasi baru yang menolak batas antara produktivitas dan kebahagiaan. Mereka percaya, pekerjaan tak harus mengurung seseorang di ruang kantor, karena inspirasi justru bisa datang dari tempat-tempat yang membuat hati tenang dan kepala jernih.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
