"o, Tuan" .Feast: Renungan Kematian yang Penuh Kejujuran dan Kepasrahan
o, Tuan--ISTIMEWA
RADARTVNEWS.COM - Grup musik .Feast kembali menyuguhkan karya yang mengguncang hati dengan lagu berjudul “o, Tuan”. Berbeda dari karya-karya mereka sebelumnya yang kerap lantang mengangkat isu sosial dan politik, kali ini .Feast memilih jalur yang lebih personal dan eksistensial. Lewat lirik yang lugas, penuh kepasrahan, dan tanpa banyak kiasan, lagu ini seakan menjadi doa sekaligus peringatan akan kefanaan hidup.
Sejak bait pertama, pendengar langsung diajak masuk ke dalam kesadaran bahwa hidup hanyalah sementara. “Oh jelas aku tahu bunga akan layu, rumput kian mengering daun kan menguning,” demikian pembuka liriknya. Kalimat sederhana ini menegaskan bahwa segala yang hidup pasti akan menemui akhir. Tidak ada yang abadi, bahkan keindahan sekalipun. Dengan jujur, liriknya menggambarkan waktu sebagai “kutukan, ancaman, bualan,” yang secara perlahan mengambil satu per satu orang di sekitar kita.
Di balik kejujuran itu, terselip ketakutan dan rasa enggan yang begitu manusiawi. Rasa takut kehilangan tercermin jelas dalam bagian lirik: “Aku takut untuknya, o Tuan wahai Kematian, ku tak bisa melawan jamah perhentian. Berjanji kuikhlaskan dengan rela, namun jangan hari ini.” Pengulangan kalimat “namun jangan hari ini” menjadi inti emosi dari lagu ini. Meski sadar bahwa kematian adalah takdir, manusia tetap berharap agar waktu itu tidak datang sekarang. Ada doa agar Tuhan memberi kesempatan lebih panjang, setidaknya untuk satu hari lagi.
BACA JUGA:Ketika Rakyat Bicara dan Gubernur Mendengar, Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa di Lampung Damai
Hal menarik dari “o, Tuan” adalah bagaimana .Feast memilih menyampaikan makna tanpa banyak metafora yang rumit. Lirik seperti “Melihatmu masuk ke dalam ruang operasi, berdoa semalam suntuk di kamar yang hening” terdengar nyata, seakan benar-benar berasal dari pengalaman pribadi. Lagu ini tidak membungkus kesedihan dengan perumpamaan, melainkan menyingkap ketelanjangan rasa takut dan duka dalam bentuk paling sederhana. Justru karena itu, pesan yang disampaikan terasa lebih menusuk.
Secara musikal, “o, Tuan” tetap mempertahankan ciri khas .Feast dengan aransemen yang megah dan emosional. Suara vokal Baskara Putra terdengar begitu penuh tekanan, menyalurkan kecemasan sekaligus penyerahan diri. Musik yang dibangun perlahan menuju klimaks mendukung atmosfer doa dan permohonan, sehingga pendengar seolah ikut larut dalam rasa gentar menghadapi “jamah perhentian.”
Lagu ini pada akhirnya bukan sekadar tentang ketakutan terhadap kematian, melainkan juga tentang cinta dan kepedulian terhadap orang terdekat. Ada nuansa doa yang dipanjatkan untuk orang lain, bukan hanya untuk diri sendiri. Ketulusan itu membuat “o, Tuan” terasa begitu personal, namun sekaligus universal. Hampir semua orang pernah atau akan berada di posisi yang sama: berusaha merelakan, tetapi tetap memohon penundaan.
Melalui “o, Tuan”, .Feast menunjukkan bahwa mereka bukan hanya band yang vokal dalam menyuarakan keresahan sosial, melainkan juga piawai menggali sisi terdalam dari pengalaman manusia. Lagu ini hadir sebagai pengingat bahwa hidup dan mati adalah bagian dari perjalanan yang tidak bisa ditawar. Namun, di tengah ketidakpastian itu, doa sederhana “kurelakan, namun jangan hari ini” menjadi suara yang paling jujur dari hati manusia.
Dengan lirik yang sederhana tapi menghantam, serta aransemen musik yang kuat, “o, Tuan” berhasil memadukan kepasrahan dan perlawanan dalam satu tarikan napas. Lagu ini bukan hanya sekadar musik, tetapi sebuah renungan, sebuah doa, dan sebuah pengingat bahwa hidup selalu berdampingan dengan kematian.
BACA JUGA:Diduga Hendak Lakukan Provokasi Saat Demo Mahasiswa, Tiga Pria Diamankan TNI di Lampung
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
