BANNER HEADER DISWAY HD

Celurut Tua Mengelabui Tikus

Celurut Tua Mengelabui Tikus

ilustrasi-Foto : Udin Bule-

Dikira Lugu, Ternyata Suhu

Opini: Syamsudin

Sepak terjang tikus kerap menjadi perkara yang sangat menjengkelkan. Aksinya berulang kali memaksa para petani menelan penderitaan. Datang tanpa diundang, menyikat habis batang padi yang belum masak, bersarang di bawah lubang pematang, lalu menghilang tanpa jejak—meninggalkan kesal dan emosi yang mendalam.

Namun, dongeng tikus tidak hanya berhenti di sawah, dapur, gudang, atap loteng rumah, atau got. Obrolan tentang hewan pengerat (rodentia) itu melingkar jauh dengan persepsi yang berbeda: anggaran bocor, proyek fiktif, bantuan lenyap, suap, dan berbagai kisah lain yang tak kalah busuk baunya.

Di balik ulah si pengerat, ada cerita “mamali” lain yang nyaris serupa. Namanya celurut—atau curut—hewan insektivora berhidung lancip, bertubuh kecil, berbau menyengat, pemakan serangga, namun gerak-geriknya licin dan sulit ditangkap.

Kisah ini bermula dari negeri para demit. Ada seekor celurut tua, tubuhnya mulai layu, usianya mendekati senja, tetapi sepak terjangnya nyaris tak pernah terpantau.

Suara mencicitnya selama ini terdengar polos, bahkan berbeda jauh dari tikus. Siapa sangka, bunyi itu ternyata berselubung kebohongan.

Tanpa rasa malu, celurut tua yang biasanya hanya memakan serangga kini berani mengikuti jejak si pengerat. Ia melangkah dengan imajinasi sepatu fantofel hitam polos, berpakaian khaki, lalu mulai beraksi—merayap, menyusup, dan mengendap bak penyamun jalanan dari negeri seribu janji.

Ketika waktu rehat tiba dan tikus-tikus lengah, tumpukan kertas di atas meja kantor—yang mungkin senilai rumah real estat Rp1,7 miliar—serta segenggam pensil kayu, mungkin setara rumah subsidi Rp360 juta, tak luput dari bidikan benaknya.

Aksi pun berlanjut. Celurut tua mencicit, bak sebuah perintah, “Ayo kerjakan.” Bawahan pun tak berkutik, terpaksa ikut serta.

Lembar demi lembar kertas dilipat. Satu per satu pensil kayu digelindingkan hingga jatuh ke lantai. Dalam waktu sesingkat-singkatnya, celurut tua berhasil membopong jarahannya.

Namun sial bagi tikus. Menjelang tengah malam, ketika kawanan tikus hendak beraksi, mereka terperanjat. Target telah sirna tanpa suara—yang tertinggal hanya bau menyengat khas si celurut tua.

Tikus yang selama ini dikenal lihai menggerogoti kayu hingga kebijakan, kini harus kecolongan. Ia dikelabui oleh sesosok celurut tua yang selama ini dikira lugu—ternyata suhu. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: