BANNER HEADER DISWAY HD

Drama Tengah Malam di Perairan Karimun, Ditpolairud Polda Kepri Gulung Komplotan Perompak Laut Kapal Asing

Drama Tengah Malam di Perairan Karimun, Ditpolairud Polda Kepri Gulung Komplotan Perompak Laut Kapal Asing

Ditpolairud Polda Kepri Gelar Perkara Pengungkapan Penangkapan 10 Orang Kawanan Perompak Laut Kapal Asing di Perairan Karimun -Foto : Ist-radartv.disway.id

KARIMUN, RADARTVNEWS.COM - Langit masih pekat, diselimuti kegelapan dini hari, ketika sebuah speed boat bermesin Yamaha 75 PK membelah Perairan Batu Cula, Kabupaten Karimun dengan kecepatan tinggi. 

Di dalamnya, delapan sosok pria yang dilengkapi peralatan lengkap—mulai dari tang, obeng, hingga kunci inggris—bersiap kembali ke daratan, membawa hasil "panen" ilegal mereka. 

Namun, malam itu bukanlah malam biasa, sebuah operasi senyap yang telah dirancang matang oleh Ditpolairud Polda Kepulauan Riau telah menanti, siap mengakhiri aksi mereka.

Tepat pukul 01.30 WIB, Rabu, 8 Juli 2025, ketegangan memuncak. Tim patroli Ditpolairud yang sigap berhasil menghentikan laju perahu tersebut. Dalam hitungan menit yang mendebarkan, bukti-bukti tak terbantahkan terkuak: satu karung besar berisi 20 spare part kapal, beragam alat pembobol yang tampak usang, dan sejumlah telepon genggam yang digunakan untuk koordinasi. 

Penangkapan dramatis ini bukan hanya menggulung delapan pelaku, tetapi juga berhasil membuka tabir jaringan pencurian terorganisir yang telah lama beraksi di jalur laut internasional. Kapal asing MV Tom Elizabeth teridentifikasi sebagai korban terbaru mereka.

BACA JUGA:Kriminalitas Lampung 2025: Dinamika Kejahatan di Kota dan Desa

Berawal dari Peringatan Internasional: Jaringan Terbongkar Dalam 24 Jam

Seluruh rangkaian penangkapan ini bermula dari sebuah laporan kritis yang diterima dari International Maritime Bureau (IMB) pada 7 Juli 2025. Dalam laporannya, IMB menyoroti peningkatan kasus pencurian di jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Malaka dan sekitarnya—sebuah urat nadi perdagangan maritim tersibuk di Asia Tenggara.

Mendapat peringatan serius tersebut, Ditpolairud Polda Kepri langsung bertindak cepat dan presisi. Hanya berselang satu hari, operasi senyap pun dilancarkan, dan dalam waktu singkat, delapan pelaku utama berhasil digulung. 

Para pelaku ini berasal dari berbagai wilayah, menunjukkan jaringannya yang luas: mulai dari Batam, Selat Nenek, Pulau Akar, hingga jauh ke Aceh dan Sumatera Barat.

Beroperasi Sejak 2017, Keuntungan Ratusan Juta dari Lautan

Dalam interogasi intensif, para pelaku akhirnya mengaku bahwa mereka telah melakukan aksi serupa sejak tahun 2017. Ini bukan sekadar pencurian acak, melainkan sebuah modus operandi yang terorganisir rapi. 

BACA JUGA:Kemiskinan dan Kriminalitas: Lingkaran Setan yang Tak Putus?

Setiap anggota memiliki perannya masing-masing: ada tekong yang mengemudikan perahu, eksekutor yang naik langsung ke kapal target, pengatur tali untuk memastikan akses dan evakuasi, hingga penampung barang hasil curian di daratan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: