Mengintip Fenomena ‘Sekolah Ninja’ di Iran: 25.000 Perempuan Lulus, Ribuan Lainnya Terdata

 Mengintip Fenomena ‘Sekolah Ninja’ di Iran: 25.000 Perempuan Lulus, Ribuan Lainnya Terdata

Mengintip Fenomena ‘Sekolah Ninja’ di Iran-Gambar ilustrasi (dihasilkan oleh Ai)-Pinterest

RADARTVNEWS.COM - Bayangkan ribuan perempuan berkerudung hitam, bukan untuk upacara keagamaan, melainkan untuk berlatih gerakan mematikan ala ninja Jepang. Inilah pemandangan yang semakin umum di Iran, negara yang belakangan mencatat fenomena unik: lebih dari 25.000 perempuan telah resmi lulus dari "sekolah ninja" dan ribuan lainnya masih dalam proses pelatihan.

 

Klub-klub ninjutsu bermunculan di berbagai kota besar Iran, mulai dari Teheran hingga Mashhad. Para pesertanya berasal dari berbagai latar belakang—mahasiswi, ibu rumah tangga, hingga profesional muda. Mereka mempelajari teknik membela diri, keseimbangan, konsentrasi, dan penggunaan senjata tradisional seperti pedang pendek (ninjaken) serta shuriken.

 

Bagi banyak peserta, sekolah ninja adalah pelarian dari tekanan hidup sehari-hari di bawah rezim yang sangat membatasi ruang gerak perempuan. "Di sini saya merasa kuat, bukan hanya fisik tapi juga mental," kata salah satu lulusan yang enggan disebut namanya. Latihan ini memberikan rasa percaya diri dan persaudaraan yang jarang mereka dapatkan di ruang publik.

 

Pemerintah Iran sendiri memiliki sikap ambivalen. Di satu sisi, bela diri ninjutsu dipromosikan sebagai olahraga yang melatih disiplin dan moral Islam. Federasi Ninjutsu resmi diakui oleh Kementerian Olahraga Iran. Namun di sisi lain, kekhawatiran muncul: apakah perempuan-perempuan terlatih ini bisa menjadi ancaman bagi stabilitas rezim jika suatu saat terjadi gelombang protes besar-besaran?

 

Klub-klub tersebut mengajarkan bahwa ninja sejati adalah pribadi yang tenang, tidak agresif, dan hanya menggunakan kekuatan untuk membela diri atau orang lemah. Namun pengamat hak asasi manusia menilai, lonjakan minat terhadap bela diri ekstrem mencerminkan rasa tidak aman yang mendalam di kalangan perempuan Iran, terutama pasca kerusuhan nasional yang mengguncang negara itu.

 

Fenomena ini juga menimbulkan reaksi beragam di media sosial. Ada yang memuji semangat juang perempuan Iran, ada pula yang mengkritik rezim karena lebih mudah mengizinkan seni bela diri daripada membiarkan perempuan bernyanyi di depan umum atau bepergian tanpa pendamping pria.

 

Apapun interpretasinya, satu hal pasti: 25.000 lulusan dan ribuan calon ninja perempuan Iran telah mengubah narasi tentang ketahanan perempuan di Timur Tengah. Mereka bukan sekadar belajar jurus—mereka belajar untuk tidak takut. Dan dalam sistem yang ingin membungkam mereka, itu adalah keterampilan paling mematikan yang bisa dimiliki.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: