THR: Lebih dari Sekadar Uang Tunjangan, Ini Makna dan Sejarahnya di Indonesia
makna di balik Tunjangan Hari Raya (THR) di Indonesia.-Fimela-Pinterest
RADARTVNEWS.COM - Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, satu kata selalu menjadi perbincangan hangat di Indonesia: THR. Tiga huruf ini, singkatan dari Tunjangan Hari Raya, telah menjelma menjadi lebih dari sekadar istilah administratif. Ia adalah bagian dari denyut nadi ekonomi, tradisi turun-temurun, bahkan fenomena kebahasaan yang unik .
Sejarah THR di Indonesia ternyata panjang dan kaya akan akulturasi budaya. Antropolog Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo, menyebut tradisi ini sebagai pengejawantahan dari ajaran Islam untuk bersedekah.
Jauh sebelum menjadi aturan formal, pada abad ke-16 hingga ke-18 di masa Kerajaan Mataram Islam, para raja dan bangsawan sudah terbiasa memberikan uang baru kepada anak-anak para pengikutnya sebagai hadiah atas keberhasilan mereka menyelesaikan ibadah puasa .
Namun, wujud THR seperti yang kita kenal sekarang mulai dibentuk pada era yang lebih modern. Di masa pendudukan Jepang tahun 1943, dikenal istilah "hadiah lebaran" untuk pegawai negeri.
Gagasan ini kemudian diperjuangkan secara resmi oleh Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi pada awal tahun 1950-an sebagai bagian dari program kesejahteraan aparatur negara.
Perjuangan buruh untuk mendapatkan hak atas THR terus bergulir hingga akhirnya pada tahun 1994, THR secara resmi diatur sebagai hak bagi buruh perusahaan melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja .
Kini, THR telah menjadi hak bagi berbagai kalangan pekerja, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan petunjuk teknis yang rinci hingga pekerja swasta.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: