"Lagu Daur Hidup: Dari Tangis hingga Tawa, Dari Lahir hingga Debu"
--istimewa
RADARTVNEWS.COM - Donne Maula kembali menorehkan karya penuh makna melalui lagunya yang berjudul “Daur Hidup”. Lagu ini bukan sekadar rangkaian nada dan kata, melainkan sebuah refleksi panjang tentang perjalanan manusia: jatuh, bangkit, bertahan, hingga akhirnya kembali menjadi debu. Dengan lirik yang jujur dan dekat dengan keseharian, “Daur Hidup” menghadirkan perenungan yang mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarkan.
Sejak bait pertama, lagu ini sudah memancarkan kekuatan. “Hai perkenalkan aku jiwa yang bertahan, sudah ditempa keras oleh banyak cerita, mati berkali-kali tapi bisa hidup lagi.” Kalimat ini terasa seperti pengakuan personal yang mewakili banyak orang. Dalam kehidupan, tak sedikit manusia yang berkali-kali jatuh, merasa mati rasa, namun entah bagaimana menemukan cara untuk hidup kembali. Donne Maula berhasil menangkap esensi itu dalam sebuah pernyataan sederhana namun penuh daya.
Lagu ini juga menyiratkan bahwa kekuatan tidak datang begitu saja, melainkan melalui proses panjang. “Konon jika selamat aku semakin hebat, daur hidup akan selalu berputar, tugasku hanya bertahan.” Di sinilah pendengar diajak untuk memahami bahwa hidup adalah siklus tanpa henti. Ada kalanya kita berada di puncak, lalu jatuh, kemudian bangkit lagi. Yang terpenting bukanlah menghindari luka, melainkan terus bertahan di dalam pusaran itu.
BACA JUGA:Viral! Permainan Gasing Penghapus Ternyata Bisa Membahayakan
Meski berbicara tentang kekuatan, Donne Maula tidak menutupi sisi rapuh manusia. “Bohong jika aku bilang selalu kuat, lemah datang di saat-saat tak tepat.” Lirik ini menghadirkan kejujuran yang jarang dibicarakan dalam lagu-lagu motivasi. Bahwa manusia, sekuat apa pun, pasti memiliki celah untuk runtuh. Namun justru dari pengakuan akan kelemahan itu, lahirlah pemahaman baru bahwa kekuatan sejati sering kali tumbuh dari keterbukaan pada kerapuhan.
Tidak berhenti di sana, lagu ini juga menekankan pentingnya kehadiran orang lain. “Beruntung aku dijaga kawan erat, ayat buatku dan dia semakin dekat.” Donne Maula seakan mengingatkan bahwa perjalanan hidup tidak pernah ditempuh sendirian. Ada sahabat, ada doa, ada keyakinan yang membuat langkah terasa lebih ringan. Kehangatan persahabatan dan spiritualitas menjadi jaring pengaman ketika hidup terasa terlalu berat.
Refrain yang berulang, “Terus jalan dan mengalirlah seperti air, dari lahir sampai ku jadi debu di akhir,” adalah inti dari lagu ini. Pesannya jelas, hidup harus dijalani dengan keteguhan sekaligus kelapangan hati. Seperti air yang mengalir, manusia diajak untuk tidak terlalu keras melawan arus, melainkan mengikuti ritme kehidupan sambil tetap bertahan dalam pusarannya.
Puncak lagu ditutup dengan pernyataan yang penuh penerimaan, “Hai semua tangis dan tawa di depan mata, aku tak pilih kasih kan ku peluk semua.” Kalimat ini menjadi refleksi bahwa dalam daur hidup, suka dan duka adalah dua wajah yang tak terpisahkan. Dengan merangkul keduanya, manusia bisa benar-benar memahami makna bertahan dan hidup sepenuhnya.
Melalui “Daur Hidup”, Donne Maula tidak hanya menulis lagu, ia menuliskan cermin bagi para pendengarnya. Lagu ini mengajarkan bahwa perjalanan hidup adalah tentang keberanian untuk jatuh, kesabaran untuk bangkit, dan kerendahan hati untuk menerima segala rupa pengalaman. Dalam kesederhanaan liriknya, Donne Maula menghadirkan kedalaman yang membuat “Daur Hidup” bukan sekadar lagu, tetapi sebuah mantra kecil untuk bertahan hidup.
BACA JUGA:Kemenkop Tunda Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PMO Koperasi Merah Putih: Cek Jadwalnya!
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
