Ternyata Warna Mengatur Emosi dan Keputusan, Ini Penjelasannya
ilustrasi warna-foto:pinterest-
RADARTVNEWS.COM-Dunia yang kita lihat setiap hari sebenarnya adalah sebuah teater cahaya yang luas. Apa yang kita sebut sebagai warna pada dasarnya merupakan hasil interaksi yang rumit antara hukum fisika dan persepsi manusia. Secara teknis, benda-benda di sekitar kita tidaklah "memiliki" warna secara permanen; mereka hanya memiliki kemampuan untuk menyerap frekuensi cahaya tertentu dan memantulkan sisa spektrum lainnya. Ketika pantulan spektrum yang tersisa ini menyentuh retina mata, otak kita menerjemahkannya sebagai warna. Fenomena ini menjelaskan mengapa sebuah apel tampak merah—ia menelan semua warna lain dalam cahaya putih, namun menolak warna merah dan mengirimkannya kembali ke penglihatan kita.
Dalam dunia kreativitas dan komunikasi visual, pemahaman mengenai struktur warna menjadi sangat krusial. Para desainer dan seniman membagi elemen ini ke dalam beberapa tingkatan untuk menciptakan harmoni.
1. Tingkatan paling mendasar adalah Warna Primer. Ini adalah warna-warna "murni" yang menjadi akar dari segala jenis warna yang ada di alam semesta. Menariknya, standar warna primer ini berbeda tergantung pada medianya. Dalam dunia seni lukis tradisional, kita mengenal skema RYB (Merah, Kuning, Biru). Namun, dalam era layar digital modern, kita beralih ke sistem RGB (Merah, Hijau, Biru) yang menggunakan cahaya sebagai basis pembentukannya.
2. Turunan berikutnya adalah Warna Sekunder. Warna-warna ini lahir dari sebuah "perkawinan" antara dua warna primer dengan takaran yang seimbang. Eksperimen ini menghasilkan variasi yang lebih kaya: perpaduan merah dan kuning menciptakan kehangatan jingga, kuning dan biru menghasilkan kesegaran hijau, serta pertemuan biru dan merah melahirkan kemewahan ungu. Tanpa adanya klasifikasi ini, transisi visual dalam karya seni akan terasa kasar dan terbatas.
BACA JUGA:Mitos atau Fakta, Warna Baju yang Kita Pakai Bisa Menggambarkan Mood dan Perasaan Kita?
Namun, warna lebih dari sekadar urusan estetika; ia memiliki "nyawa" yang mampu menembus alam bawah sadar kita melalui Psikologi Warna. Setiap warna membawa pesan emosional yang bisa mengubah perilaku manusia tanpa disadari. Biru, misalnya, sering diadopsi oleh korporasi besar karena secara psikologis memberikan rasa aman, stabil, dan profesional. Sebaliknya, merah adalah warna yang penuh adrenalin; ia memicu keberanian, energi, bahkan mampu merangsang nafsu makan, itulah sebabnya merah menjadi favorit industri kuliner.
Warna kuning sering kali digunakan untuk memicu rasa optimisme dan keceriaan, meski fungsinya juga vital sebagai tanda peringatan karena sifatnya yang mencolok. Sementara itu, hijau menjadi representasi dari harmoni alam dan simbol pertumbuhan yang menenangkan mata. Dengan memahami spektrum ini secara utuh, kita tidak hanya belajar cara melihat dunia, tetapi juga cara berkomunikasi melalui emosi yang terpancar dari setiap pantulan cahaya.(*)
BACA JUGA:iPhone 18 Pro Hadir Tahun Depan dengan Warna Baru yang Fresh: Purple, Coffee, dan Burgundy
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: