Dari Wonderkid Hingga Menjadi Grandmaster Catur Kisah Perjalanan Susanto Megaranto
Ilustrasi Catur-Foto: Media indonesia-
RADARTVNEWS.COM Nama Susanto Megaranto sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar catur Indonesia. Ia adalah Grandmaster (GM) termuda yang pernah dimiliki Indonesia, sebuah gelar prestisius yang diraihnya pada usia yang sangat belia. Namun, perjalanan Susanto menuju puncak dunia catur bukan tanpa liku. Ini adalah kisah dedikasi, bakat alam, dan kerja keras yang tak pernah padam.
Awal Mula Bakat yang Bersinar
Lahir di Indramayu, Jawa Barat, pada 8 Oktober 1987, Susanto sudah menunjukkan ketertarikan pada catur sejak usia dini. Lingkungan keluarganya yang juga memiliki minat pada olahraga otak ini turut mendukung perkembangannya. Ia mulai mengenal bidak-bidak catur bahkan sebelum masuk sekolah dasar. Bakatnya yang luar biasa segera tercium, dan ia mulai mengikuti berbagai turnamen catur tingkat lokal.
Prestasi pertamanya yang mencolok datang saat ia masih kanak-kanak. Kemampuannya membaca papan dan merencanakan strategi dengan matang, melebihi anak seusianya, membuatnya dijuluki "wonderkid" dalam dunia catur Indonesia. Turnamen demi turnamen ia ikuti, dan kemenangan demi kemenangan ia raih, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu talenta muda paling menjanjikan.
BACA JUGA:Veronica Rebut Emas di Zhuhai, Bukti Pecatur Putri Indonesia Tak Bisa Diremehkan!
Mengejar Gelar Internasional
Dengan bekal prestasi di tingkat nasional, Susanto mulai melirik panggung internasional. Ia menyadari bahwa untuk mencapai level tertinggi, ia harus berhadapan dengan pecatur-pecatur terbaik dari seluruh dunia. Pada usia 16 tahun, tepatnya di tahun 2004, Susanto berhasil meraih gelar International Master (IM), sebuah capaian yang semakin menegaskan potensi besarnya.
Gelar IM menjadi batu loncatan baginya untuk terus mengasah kemampuan dan mengejar target yang lebih tinggi: gelar Grandmaster. Perjalanan ini tidak mudah. Ia harus intens berlatih, menganalisis permainan, dan berpartisipasi dalam berbagai turnamen Grandmaster di luar negeri untuk memenuhi norma-norma yang disyaratkan oleh Federasi Catur Dunia (FIDE). Persaingan yang ketat, perbedaan budaya, dan tekanan mental menjadi tantangan yang harus ia hadapi.
Puncak Prestasi Grandmaster Termuda
Penantian panjang Susanto akhirnya terbayar pada tahun 2004, saat usianya baru menginjak 17 tahun. Dalam sebuah turnamen di Kuala Lumpur, Malaysia, ia berhasil memenuhi norma terakhir yang dibutuhkan untuk meraih gelar Grandmaster. Momen itu menjadi sejarah bagi catur Indonesia, menempatkan Susanto Megaranto sebagai Grandmaster termuda yang pernah dimiliki Indonesia. Prestasi ini disambut euforia di tanah air, menjadi inspirasi bagi banyak pecatur muda lainnya.
Pasca-Grandmaster Konsistensi dan Dedikasi
Setelah meraih gelar Grandmaster, Susanto tidak berpuas diri. Ia terus menunjukkan konsistensinya dalam berbagai turnamen, baik di level nasional maupun internasional. Ia menjadi tulang punggung tim catur Indonesia dalam ajang SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade Catur. Gelar juara nasional catur Indonesia berkali-kali ia sabet, menunjukkan dominasinya di kancah catur domestik.
Gaya bermainnya yang agresif namun tetap terukur, dengan perhitungan yang matang, selalu menjadi ciri khas Susanto. Ia dikenal sebagai pecatur yang tenang di bawah tekanan, mampu menemukan langkah-langkah brilian bahkan dalam posisi sulit.
BACA JUGA:Undangan vs Seleksi: Siapa Lebih Diuntungkan di EWC Catur 2025?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
