Rupiah Melemah Selama Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Subianto, Ini Kata BI
Ilustrasi mata uang Indonesia--Pinterest
RADARTVNEWS.COM – Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, rupiah terus bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini bahkan sempat membuat kurs rupiah menembus level Rp17.400 per dolar AS pada awal Mei 2026.
Data perdagangan yang dihimpun dari TradingView menunjukkan saat Prabowo dilantik pada Oktober 2024, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp15.489 per dolar AS.
Jika dibandingkan dengan posisi saat ini, rupiah berarti sudah melemah sekitar 12 persen dalam periode dua tahun terakhir.
Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya datang dari dalam negeri. Ada faktor global yang ikut mendorong dolar AS semakin kuat di banyak negara.
Selain itu, situasi geopolitik dunia juga ikut memengaruhi pasar keuangan. Ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak membuat permintaan dolar meningkat. Kondisi ini akhirnya menambah tekanan terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Tidak hanya faktor luar negeri, BI juga melihat adanya pengaruh musiman di dalam negeri. Pada periode April hingga Mei, kebutuhan dolar biasanya akan meningkat.
Banyak perusahaan melakukan pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen. Kebutuhan valuta asing untuk musim haji dan umrah juga ikut naik.
Meski rupiah melemah, BI menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih cukup stabil. Inflasi nasional masih terjaga di kisaran 2 persen. Pertumbuhan ekonomi juga dinilai tetap kuat dibanding sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Kondisi rupiah saat ini dinilai belum menggambarkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. BI melihat nilai tukar rupiah justru berada dalam posisi undervalued atau lebih lemah dari nilai wajarnya.
Oleh karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia kini fokus menjaga stabilitas rupiah lewat langkah yang lebih konkret.
BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menahan gejolak rupiah.
BI juga mempertahankan suku bunga acuan demi menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.
Selain itu, pengawasan transaksi devisa diperketat dengan aturan baru terkait lalu lintas dolar AS ke luar negeri.
Di sisi lain, BI terus membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan global.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: