Sering Disalahartikan sebagai OCD, Padahal Bisa Jadi Hanya Perfeksionis

Sering Disalahartikan sebagai OCD, Padahal Bisa Jadi Hanya Perfeksionis

Ilustrasi orang sedang membersihkan meja-Pinterest-

RADARTVNEWS.COM - Belakangan ini, istilah Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD makin sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Sedikit-sedikit dibilang OCD, apalagi kalau seseorang terlihat rapi, teliti, atau suka mengulang sesuatu sampai terasa sempurna. Padahal, tidak semua kebiasaan seperti itu bisa langsung disebut OCD.

Perfeksionis dan OCD memang sekilas terlihat mirip, tapi sebenarnya berbeda. Orang yang Perfeksionis biasanya punya standar tinggi terhadap dirinya sendiri. Mereka ingin hasil yang rapi, teratur, dan sesuai ekspektasi. Tapi di sisi lain, mereka masih bisa mengontrol kapan harus berhenti. Kalau situasinya tidak memungkinkan, mereka tetap bisa menyesuaikan.

Berbeda dengan OCD. Pada kondisi ini, seseorang mengalami pikiran yang muncul berulang dan sulit dikendalikan. Pikiran itu biasanya menimbulkan rasa cemas, takut, atau tidak nyaman. Misalnya merasa ada yang salah kalau sesuatu tidak dilakukan dengan cara tertentu, atau khawatir berlebihan terhadap hal yang sebenarnya sepele. Pikiran ini tidak datang sekali lalu hilang, tapi bisa terus berulang.

Dari situ, muncul dorongan untuk melakukan sesuatu secara berulang juga. Ada yang jadi mengecek sesuatu berkali-kali, mencuci tangan terus-menerus, atau mengulang aktivitas sampai rasa cemasnya sedikit berkurang. Yang perlu dipahami, tindakan ini bukan karena ingin sempurna, tapi lebih ke usaha untuk meredakan pikiran yang mengganggu.

Di sinilah sering terjadi salah paham. Orang yang sebenarnya hanya perfeksionis kadang langsung dilabeli OCD. Sebaliknya, orang yang benar-benar mengalami OCD justru dianggap “cuma kebiasaan” atau “terlalu ribet”.

Perfeksionis memang bisa membuat seseorang lebih teliti, tapi biasanya masih dalam batas yang bisa dikendalikan. Sementara OCD bisa mengganggu aktivitas sehari-hari karena pikiran dan dorongan yang muncul sulit dihentikan. Dalam beberapa kasus, hal ini juga bisa membuat seseorang merasa lelah secara mental karena harus menghadapi hal yang sama berulang kali.

Makanya, penting untuk tidak asal memberi "label" kepada seseorang. Menggunakan istilah OCD secara sembarangan bisa membuat maknanya jadi bergeser. Selain itu, hal ini juga bisa membuat orang yang benar-benar mengalami kondisi tersebut jadi kurang dipahami.

Memahami perbedaan ini bukan berarti harus langsung mendiagnosis, tapi lebih ke belajar melihat dengan lebih hati-hati. Tidak semua yang terlihat rapi berarti OCD, dan tidak semua yang terlihat berulang itu hanya kebiasaan biasa. Dengan begitu, kita bisa lebih bijak dalam melihat diri sendiri maupun orang lain.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: