Fenomena “Open Table Jamu”: Cara Baru Gen Z Mengatasi Stres Tanpa Alkohol
--TIKTOK
RADARTVNEWS.COM - Fenomena open table jamu tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Tren ini memperlihatkan bagaimana anak muda, khususnya Gen Z mulai mencari alternatif hiburan dan pelepas stres yang dianggap lebih sehat dibandingkan minuman beralkohol.
Unggahan dari sejumlah kreator seperti Surabayago.id, Liputan 6, dan sejumlah akun lokal yang mendokumentasikan aktivitas ini memperlihatkan ramainya antusiasme generasi muda terhadap jamu tradisional.
Pada video dan foto yang beredar, terlihat sejumlah pedagang jamu tradisional dikerubungi anak-anak muda yang memesan berbagai jenis jamu seolah sedang berada di bar atau klub malam. Mereka menyebut pesanan mereka dengan gaya yang menyerupai “shot”, seperti beras kencur one shoot, kunir asem shoot, hingga brotowali yang populer sebagai “obat patah hati”.
Aktivitas ini kemudian populer dengan istilah party jamu atau open table jamu, serupa istilah “open table” dalam dunia hiburan malam, namun tanpa kehadiran alkohol sama sekali.
Menurut laporan Liputan6.com dan sejumlah pengamat budaya lokal yang diwawancarai oleh media tersebut, fenomena ini dipandang sebagai bentuk adaptasi budaya tradisional ke dalam konteks modern. Jamu, yang selama ini identik dengan generasi lebih tua dan bahkan dianggap kuno oleh sebagian anak muda, kini justru mengalami kebangkitan citra.
Pendekatan kreatif dari pedagang, ditambah cara penyajian yang lebih menarik di media sosial, membuat jamu tampil sebagai pengalaman yang tidak hanya sehat tetapi juga menyenangkan dan sosial.
Beberapa pedagang jamu di kota-kota besar melaporkan adanya peningkatan pendapatan yang signifikan sejak tren ini viral. Seperti diberitakan Surabayago.id, beberapa pedagang mengaku mampu menjual lebih banyak varian jamu setiap hari, karena anak muda cenderung datang berkelompok dan mencoba banyak “rasa” dalam sekali kunjungan. Tren ini juga membantu menghidupkan kembali ekonomi mikro berbasis jamu tradisional yang sebelumnya sempat menurun peminatnya.
Para sosiolog dan pemerhati budaya menilai bahwa fenomena ini merupakan bentuk re-appropriation budaya lokal oleh Gen Z, di mana mereka mencari identitas baru sekaligus gaya hidup yang lebih sehat di tengah tekanan sosial modern.
Alih-alih lari ke alkohol, kegiatan minum jamu bersama dianggap sebagai cara yang lebih bijak untuk melepas penat, terhubung dengan teman, sekaligus bangga terhadap warisan budaya Nusantara.
Dengan meningkatnya popularitas jamu, para pelaku usaha tradisional kini memiliki peluang baru untuk memperluas pasar. Banyak pedagang mulai mengemas jamu dalam botol yang lebih modern, menciptakan resep baru, dan memanfaatkan media sosial untuk berjualan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi bisa tetap relevan jika dikemas dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman.
BACA JUGA:Menulis Jurnal Harian: Kebiasaan Sederhana yang Bisa Mengubah Hidupmu
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
