Kamu Penolong Banyak Orang, Tapi Siapa Penolongmu?
Siapa Penolongmu-pinterest-
Ada masalah yang cukup dipahami, bukan diselesaikan.
Memahami batas ini bukan berarti menjadi dingin. Justru sebaliknya ini adalah bentuk kedewasaan dalam menjaga keseimbangan. Karena empati yang sehat tidak menguras, tapi mengalir dengan sadar.
Kita tidak bisa hadir dengan kualitas yang sama untuk semua orang, di semua waktu, dalam semua kondisi. Itu bukan kelemahan itu realitas.
Dan di sinilah perubahan kecil perlu dimulai.
Belajar mengenali kapasitas diri. Mengukur energi sebelum memberi. Menyadari bahwa mengatakan “aku tidak bisa sekarang” bukan bentuk penolakan, tapi bentuk kejujuran. Sebab kehadiran yang dipaksakan sering kali tidak benar-benar membantu baik untuk orang lain, maupun untuk diri sendiri.
Menjadi baik tidak harus selalu berarti mengorbankan diri.
Justru, kebaikan yang berkelanjutan lahir dari orang yang tahu kapan harus memberi dan kapan harus berhenti. Orang yang tahu bahwa menjaga diri bukan tindakan egois, melainkan investasi agar tetap bisa memberi dengan utuh di waktu yang tepat.
Karena jika semua diberikan tanpa sisa, maka suatu hari nanti tidak ada lagi yang bisa dibagikan.
Dan ketika itu terjadi, pertanyaan lama akan kembali datang lebih sunyi, lebih dalam:
Kamu sudah ada untuk banyak orang… tapi kapan terakhir kali kamu benar-benar ada untuk dirimu sendiri?
Mungkin jawabannya sederhana, tapi tidak mudah: mulai sekarang, beri dirimu tempat dalam daftar prioritas yang selama ini hanya berisi orang lain. Bukan untuk mengurangi kebaikanmu, tapi untuk menjaganya tetap hidup. (*)
BACA JUGA: Anak Muda Mulai Jenuh Media Sosial, Pilih Aktivitas Nyata
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: