Bikin Dompet Kritis: Kenapa Terobsesi Ikut Tren yang Sebenarnya Gak Perlu?

Bikin Dompet Kritis: Kenapa Terobsesi Ikut Tren yang Sebenarnya Gak Perlu?

fomo shopping concept online shopping addiction social media trend buying impulsive spending financial stress illustration modern lifestyle consumerism-pintest -

‎‎RADARTVNEWS.COM - Di era media sosial, tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Mulai dari fashion, gadget, skincare, hingga gaya hidup tertentu, semuanya bisa menjadi viral dalam waktu singkat. Banyak orang akhirnya merasa perlu mengikuti tren tersebut agar tidak terlihat ketinggalan zaman. Namun tanpa disadari, kebiasaan ini sering kali membuat pengeluaran meningkat dan kondisi keuangan menjadi tidak sehat.

‎Fenomena ini sering berkaitan dengan konsep psikologi sosial yang dikenal sebagai Fear of Missing Out. FOMO menggambarkan perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang dilakukan orang lain. Perasaan ini membuat seseorang terdorong untuk ikut membeli, mencoba, atau melakukan sesuatu hanya karena banyak orang lain melakukannya.

‎Istilah tersebut mulai populer setelah dibahas oleh peneliti pemasaran Dan Herman pada awal 2000-an. Dalam konteks konsumsi modern, FOMO sering dimanfaatkan dalam strategi pemasaran untuk menciptakan rasa urgensi pada konsumen.

‎Di media sosial, tren dapat menyebar dengan sangat cepat. Ketika seseorang melihat banyak orang memamerkan barang baru, outfit tertentu, atau pengalaman lifestyle tertentu, otak secara tidak sadar membandingkan kondisi dirinya dengan orang lain. Perbandingan sosial ini dapat memicu dorongan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

‎Banyak tren juga sengaja dibuat memiliki siklus yang sangat singkat. Produk baru diluncurkan secara terus-menerus sehingga konsumen merasa harus selalu memperbarui barang yang dimiliki. Dalam industri fashion misalnya, tren bisa berubah hanya dalam beberapa bulan. Hal yang sama juga terjadi pada gadget, kosmetik, hingga barang koleksi.

‎Akibatnya, tidak sedikit orang yang mengeluarkan uang untuk membeli barang yang hanya digunakan sesaat. Setelah tren tersebut berlalu, barang tersebut sering kali tidak lagi digunakan.

‎Selain berdampak pada kondisi keuangan, kebiasaan mengikuti tren tanpa pertimbangan juga dapat memicu tekanan psikologis. Seseorang mungkin merasa harus selalu tampil “up to date” agar diterima dalam lingkungan sosialnya.

‎Padahal, gaya hidup yang sehat secara finansial tidak selalu berarti mengikuti semua tren yang ada. Banyak pakar keuangan pribadi menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan pembelian.

Tanda Seseorang Terjebak Tren Konsumtif

‎Beberapa tanda yang sering muncul ketika seseorang terlalu terobsesi mengikuti tren antara lain:

  • ‎membeli barang karena sedang viral di media sosial
  • ‎merasa tertinggal jika tidak memiliki barang yang sedang populer
  • ‎sering melakukan pembelian impulsif tanpa perencanaan
  • ‎barang yang dibeli jarang digunakan dalam jangka panjang
  • ‎pengeluaran meningkat tanpa disadari
  • ‎merasa perlu selalu memperbarui gaya hidup agar terlihat mengikuti zaman

‎Penyebab Orang Mudah Terjebak Tren

‎1. Pengaruh media sosial

‎Paparan konten viral membuat seseorang terus melihat produk atau gaya hidup tertentu.

‎2. Tekanan sosial

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait