RADARTVNEWS COM - Intermittent fasting atau IF beberapa tahun terakhir menjadi salah satu metode diet paling populer di media sosial. Banyak orang mengklaim metode ini efektif menurunkan berat badan, memperbaiki metabolisme, hingga meningkatkan fokus dan kesehatan otak.
Namun di balik popularitasnya, muncul pula berbagai perdebatan dari para ahli kesehatan dan hasil penelitian terbaru. Lalu, apakah intermittent fasting benar-benar seefektif yang dibicarakan banyak orang?
Secara sederhana, intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa dalam periode tertentu. Beberapa metode yang paling populer adalah pola 16:8, puasa 5:2, dan alternate-day fasting.Dalam pola 16:8 misalnya, seseorang hanya makan dalam jendela waktu delapan jam dan berpuasa selama 16 jam.
Salah satu alasan mengapa metode ini digemari adalah karena dianggap lebih sederhana dibanding diet konvensional. Banyak orang merasa lebih mudah mengatur kapan makan dibanding harus menghitung kalori setiap hari.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan intermittent fasting memang dapat membantu penurunan berat badan.
Beberapa sumber relevan menyebutkan bahwa intermittent fasting dapat membantu mengurangi berat badan dan lemak tubuh jika dilakukan dengan tepat. Beberapa ahli juga menemukan adanya potensi manfaat lain seperti menurunkan tekanan darah, meningkatkan sensitivitas insulin, hingga membantu kesehatan otak.
Selain itu, saat tubuh memasuki fase puasa, tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Proses ini juga dikaitkan dengan autophagy, yaitu mekanisme “pembersihan” sel tubuh dari komponen yang rusak. Karena itulah intermittent fasting sering dikaitkan dengan gaya hidup sehat dan anti-aging.
BACA JUGA: Plank, Tips Diet Sehat ala Dokter Gia Pratama
Namun, tidak semua penelitian menunjukkan hasil yang spektakuler. Meninjau dari Cochrane Reviews (2026) yang melibatkan hampir 2.000 partisipan menemukan bahwa intermittent fasting ternyata tidak memberikan perbedaan signifikan dibanding metode defisit kalori biasa dalam menurunkan berat badan.
Selisih hasil penurunan berat badan bahkan tergolong kecil secara klinis. Artinya, kunci utama penurunan berat badan sebenarnya tetap berada pada defisit kalori.
Jika seseorang tetap makan berlebihan saat “jam makan”, maka hasil intermittent fasting juga bisa kurang maksimal.
Di sisi lain, intermittent fasting juga tidak cocok untuk semua orang. Beberapa orang mungkin mengalami pusing, mudah lelah, sulit fokus, atau justru makan berlebihan setelah jam puasa selesai.
Pada kondisi tertentu, pola ini juga bisa memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan. Kelompok seperti ibu hamil, penderita gangguan makan, lansia dengan risiko kehilangan massa otot, atau penderita diabetes yang menggunakan insulin perlu lebih berhati-hati sebelum mencoba pola makan ini.
Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap penting agar metode diet tidak justru membahayakan tubuh.
Hal lain yang sering dilupakan adalah kualitas makanan. Banyak orang fokus pada durasi puasa, tetapi tetap mengonsumsi makanan tinggi gula, gorengan, atau minim protein saat jam makan. Padahal, pola makan sehat tetap menjadi fondasi utama keberhasilan diet.