RADARTVNEWS.COM - Perubahan suasana hati atau mood pada wanita menjelang masa menstruasi, yang dikenal sebagai Premenstrual Syndrome (PMS), merupakan kondisi yang umum dialami. PMS biasanya muncul beberapa hari hingga dua minggu sebelum menstruasi dan ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun emosional yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Perubahan mood saat PMS dapat berupa perasaan mudah marah, cemas, sedih, atau lebih sensitif dibandingkan biasanya. Kondisi ini terjadi akibat perubahan hormon dalam tubuh, terutama fluktuasi hormon estrogen dan progesteron, yang berpengaruh terhadap sistem saraf dan kestabilan emosi. Meski bersifat sementara, perubahan suasana hati tersebut kerap dirasakan cukup signifikan oleh sebagian wanita.
Selain perubahan emosional, PMS juga sering disertai dengan gejala fisik seperti kelelahan, nyeri perut, sakit kepala, dan gangguan tidur. Kombinasi antara ketidaknyamanan fisik dan perubahan hormon dapat memperkuat perubahan mood, sehingga wanita menjadi lebih mudah merasa tidak nyaman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Perubahan mood saat PMS dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, aktivitas akademik, maupun pekerjaan. Dalam beberapa kasus, wanita mengalami kesulitan berkonsentrasi dan menurunnya produktivitas akibat kondisi emosional yang tidak stabil. Namun demikian, intensitas gejala PMS dapat berbeda pada setiap individu, tergantung kondisi tubuh dan pola hidup masing-masing.
BACA JUGA:Perut Sakit Saat PMS? Ini 7 Tips yang Bisa Dilakukan untuk Menguranginya
Kurangnya pemahaman mengenai PMS sering kali membuat perubahan mood pada wanita disalahartikan. Padahal, kondisi ini merupakan respons alami tubuh terhadap perubahan hormonal. Oleh karena itu, pemahaman yang baik mengenai PMS dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif dan mengurangi stigma terhadap perubahan emosi yang dialami wanita.
Pola hidup sehat dapat membantu mengurangi dampak perubahan mood saat PMS. Istirahat yang cukup, aktivitas fisik ringan, serta pola makan yang seimbang dinilai dapat mendukung kestabilan kondisi fisik dan emosional. Selain itu, mengelola stres juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan suasana hati menjelang menstruasi.
Kesadaran mengenai perubahan mood saat PMS perlu terus ditingkatkan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat. Dengan pemahaman yang tepat, perubahan emosional yang dialami wanita saat PMS dapat dipahami sebagai kondisi alami yang memerlukan dukungan, bukan penilaian negatif.
Perubahan mood saat PMS menjadi bagian dari siklus biologis yang dialami wanita. Dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik, kondisi ini dapat dihadapi dengan lebih bijak, sehingga wanita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal meskipun berada dalam masa PMS.
BACA JUGA:Benarkah Makanan Manis Bisa Meningkatkan Mood Saat Haid? Ini Penjelasan Ilmiahnya