Pola Asuh yang Bikin Anak Masa Kini Lebih Sensitif

Pola Asuh yang Bikin Anak Masa Kini Lebih Sensitif

ilustrasi keluarga-pinterst-

‎RADARTVNEWS.COM - Perubahan zaman tidak hanya memengaruhi teknologi dan gaya hidup, tetapi juga cara orang tua membesarkan anak. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengamat pendidikan dan psikologi perkembangan menyoroti bahwa sebagian anak masa kini terlihat lebih sensitif secara emosional dibandingkan generasi sebelumnya. Sensitif di sini bukan selalu berarti negatif, tetapi menggambarkan anak yang lebih mudah merasakan tekanan, kritik, atau konflik sosial.

‎Salah satu faktor yang sering dibahas adalah perubahan pola asuh dalam keluarga modern. Banyak orang tua saat ini berusaha memberikan perlindungan dan perhatian yang lebih besar kepada anak dibandingkan generasi sebelumnya. Pendekatan ini sering dikaitkan dengan konsep Helicopter Parenting, yaitu gaya pengasuhan di mana orang tua terlalu terlibat dalam hampir setiap aspek kehidupan anak.

‎Istilah tersebut pertama kali populer melalui penelitian psikolog perkembangan anak, salah satunya dibahas oleh penulis dan peneliti parenting Julie Lythcott-Haims yang menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua yang terlalu intens dapat membuat anak kurang memiliki kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan sendiri.

‎Di satu sisi, perhatian yang besar dari orang tua memang dapat membuat anak merasa aman dan didukung. Namun di sisi lain, jika anak jarang menghadapi kesulitan atau konflik secara mandiri, kemampuan mereka untuk mengelola emosi dan tekanan bisa berkembang lebih lambat.

‎Selain faktor keluarga, lingkungan digital juga memainkan peran besar. Anak-anak masa kini tumbuh di tengah paparan media sosial, internet, dan komunikasi digital yang sangat intens. Informasi dan komentar dari orang lain dapat memengaruhi kondisi emosional mereka dengan cepat, terutama ketika berkaitan dengan penilaian sosial.

‎Perubahan sistem pendidikan juga turut memengaruhi perkembangan emosional anak. Dalam beberapa pendekatan pendidikan modern, fokus tidak hanya pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis siswa. Hal ini membuat anak lebih terbuka dalam mengekspresikan emosi mereka dibandingkan generasi sebelumnya yang sering diajarkan untuk menahan perasaan.

‎Meski demikian, para ahli menekankan bahwa sensitivitas emosional bukan selalu kelemahan. Anak yang sensitif sering kali memiliki empati yang tinggi, kemampuan memahami perasaan orang lain, serta kesadaran emosional yang baik. Tantangannya adalah bagaimana membantu anak mengelola emosi tersebut agar tidak berubah menjadi rasa mudah tersinggung atau cemas berlebihan.

‎Tanda Anak Memiliki Sensitivitas Emosional Tinggi

‎Beberapa ciri yang sering muncul pada anak dengan sensitivitas emosional tinggi antara lain:

  • ‎mudah merasa sedih ketika menerima kritik
  • ‎lebih cepat merasa tersinggung dibanding teman sebayanya
  • ‎sangat peka terhadap suasana hati orang lain
  • ‎sering memikirkan kembali pengalaman negatif
  • ‎mudah merasa cemas terhadap situasi baru
  • ‎membutuhkan waktu lebih lama untuk menenangkan diri setelah konflik

‎Faktor yang Memengaruhi Sensitivitas Anak

‎1. Pola asuh yang terlalu melindungi

‎Anak yang jarang menghadapi tantangan sendiri mungkin kesulitan mengembangkan ketahanan emosional.

‎2. Lingkungan digital dan media sosial

‎Paparan komentar, perbandingan sosial, dan tekanan online dapat memengaruhi kondisi emosional anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: