“Kita sepakat,” sahut Kondang dan Bebet bersamaan.
“Kau bukan Ratu Manis… kau Ratu Pembual!”
Hujan pun reda.
“Nah, ayo pulang,” kata Kondang, berdiri. “Langit sudah lega.”
Ketiganya melangkah pergi, meninggalkan gubuk, sawah, dan hujan—serta sebuah jejak kesabaran yang kian menipis. (*)