Senyum Manis, Topeng Ratu Pembual, Boneka Sang Ibu Ratu Nini

Sabtu 10-01-2026,20:47 WIB
Editor : Admin

BACA JUGA:Melacak Telapak Maling ; Yang Merasa Maling, Jangan Teriak!

Bebet lalu terkikik kecil. “Bayangin aja. Kalau utangnya 300 kepeng emas, dibelikan pasir, batu hitam, aspal, alat-alat. Habis itu Ratu minta fee 20 persen. Total untung 60 kepeng emas. Lumayan buat persiapan tahun 2029.”

Otong menarik napas panjang. “Terus… yang bayar utangnya siapa, Bet?”

“Rakyatlah. Mau siapa lagi?” celetuk Kondang. “Emang demit yang bayar?”

Otong tertunduk. “Tak kusangka… Ratu Manisku ternyata menyimpan dusta.”

“Baru tiga belas purnama memimpin,” sambung Kondang, “tapi kebijakannya cuma seremonial, penuh pencitraan. Keputusannya jauh panggang dari api.”

“Ooo… ternyata begitu,” ujar Bebet lirih, lalu berujar seperti berpuisi,

“Senyum menawan ditebar, menutupi keangkuhan.

Janji manis terlontar, berselimut kepongahan.

Dahulu teriak ‘Gemah Ripah Loh Jinawi’,

Kini rakyat terpanggang oleh utang keserakahan.”

Otong menyambung dengan suara parau,

“Wajah ayu bak rembulan, menguak topeng kepalsuan.

Langkah gemulaimu hanyalah intrik,

boneka permainan Sang Ibu Ratu Nini.”

“Mulai hari ini,” seru Otong.

Kategori :