Runtuhnya “Wibawa” Sang Penjilat, Emang Punya Wibawa?

Senin 05-01-2026,06:27 WIB
Reporter : Syamsudin

Udin terdiam sejenak. Dahinya berkerut. Waduh, berita apa lagi nih yang bikin kaget? gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba matanya berbinar.

“Oh iya Pak! Ada kabar oknum pejabat korup tewas disambar petir!”

“Saya beli satu,” kata si Bapak cepat, sambil menyodorkan uang lima ribuan.

“Ini, Pak. Terima kasih,” ucap Udin ceria.

Udin melangkah pergi. Tapi belum jauh…

“Dik!” teriak si Bapak dari dalam mobil.

“Iya, Pak?” Udin menoleh.

“Mana beritanya? Saya bolak-balik koran ini, tidak ada beritanya.”

Udin tersenyum kecil. “Buka lebar dong kacanya, Pak. Biar saya jelasin.”

Ia mendekat. Baru sekarang Udin benar-benar memperhatikan. Di depan mobil ada pengawal. Di pundak jas si Bapak, tersemat lambang bintang emas mencolok.

“Wih… Bapak orang penting ya?” celetuk Udin polos.

“Ah, bukan. Saya cuma bawahan,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

Udin mengangguk.

“Maaf Pak, yang tadi itu bukan berita. Itu kabar burung. Oknum pejabat korup tewas disambar petir—kabar burung, Pak.”

“Ooh…” Si Bapak terdiam.

Kategori :