“Saya nggak mungkin bohong, apalagi nipu,” lanjut Udin.
“Uang hasil jualan koran ini halal, walau untungnya sedikit. Nggak kayak oknum pejabat yang maling duit negara.”
Si Bapak tersenyum kaku. “Iya juga ya…”
“Iya Pak,” Udin menimpali lugu.
“Apalagi kalau habis maling duit negara, nggak bagi-bagi sama bawahannya atau pimpinannya. Di hari perhitungan nanti, bisa babak belur dihajar Malaikat Zabaniyah.”
Udin terkekeh.
“Kalau dibagi-bagi, ya anggap saja bagi-bagi dosa. Nanti digebuknya bareng-bareng.”
Si Bapak tertawa kecil. “Ya sudah, Dik. Terima kasih ceramahnya. Saya jalan dulu.”
“Hati-hati di jalan, Pak,” jawab Udin sambil tersenyum lebar.
“Besok kalau lewat sini, beli koran lagi ya, Pak.”
Mobil hitam itu melaju perlahan, meninggalkan Udin—dan mungkin, meninggalkan sedikit kegelisahan di dada sang pembeli koran.(*)