Outfit Anti Cat Calling: Trend Lucu yang Sebenarnya Menyimpan Pesan Menyedihkan

Outfit Anti Cat Calling: Trend Lucu yang Sebenarnya Menyimpan Pesan Menyedihkan

Trend Tiktok "day 1 make outfit anti cat calling" yang sedang hits di sosial media --Screenshot Tiktok : @nabhbh dan @ummiiajaaa

 

RADARTVNEWS.COM — Belakangan ini, Tiktok maupun Instagram diramaikan dengan tren “day one keluar pake outfit anti cat calling”. Di berbagai video, perempuan tampil dengan pakaian yang serba tertutup, berlapis, dan kadang terlihat sengaja dibuat aneh dan abstrak . 

Ada yang mengenakan baju longgar, jaket tebal, celana besar atau rok panjang, masker, topi, hingga kacamata. Warna dan motifnya pun sering kali tabrak-tabrakan, sehingga sekilas terlihat lucu dan menghibur.

Kalau hanya dilihat dari permukaannya, tren ini memang tampak seperti konten receh khas zaman sekarang. Tapi kalau dipikir lebih jauh, ada pesan yang cukup menyentil di baliknya: bagaimana perempuan sampai harus memikirkan cara berpakaian agar tidak diganggu di ruang publik.

Tren ini bukan sekadar soal fashion. Banyak perempuan yang membuat konten semacam ini sebenarnya sedang menggambarkan satu pengalaman yang akrab bagi mereka, yaitu rasa waspada ketika keluar rumah. Mereka berusaha menutupi tubuh, menyamarkan bentuk badan, bahkan menyembunyikan wajah agar tidak terlalu menarik perhatian.

Dengan kata lain, mereka bukan sedang ingin tampil “asal”, tapi sedang berusaha mengurangi kemungkinan menjadi sasaran cat calling.

Di sinilah ironi itu muncul. Ruang publik yang seharusnya bisa diakses siapa saja dengan aman justru membuat banyak perempuan merasa perlu “aneh” agar lebih tenang.

Cat calling Masih Sering Dianggap Sepele

Masalahnya, cat calling sampai hari ini masih sering dianggap hal biasa. Ada yang menyebutnya cuma candaan, pujian, atau bentuk keisengan laki-laki di jalan. Padahal, bagi yang mengalaminya, cat calling bisa terasa sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman.

Cat calling bisa berupa siulan, panggilan bernada seksual, komentar tentang tubuh, tatapan yang melecehkan, hingga gestur yang membuat seseorang merasa terancam. Bentuknya mungkin terlihat “ringan” dibanding kekerasan lain, tetapi dampaknya nyata. Banyak perempuan jadi lebih waspada saat berjalan sendirian, memilih jalan tertentu, atau bahkan mengubah cara berpakaian hanya demi merasa lebih aman.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada seberapa terbuka atau tertutup pakaian seseorang, melainkan pada cara perempuan masih sering diposisikan sebagai objek yang bebas dikomentari.

Pakaian Bukan Penyebab Pelecehan

Salah satu anggapan yang paling sering muncul saat membahas pelecehan seksual adalah tuduhan bahwa pakaian korban terlalu terbuka. Padahal, asumsi ini tidak berdiri di atas kenyataan.

Banyak kasus menunjukkan bahwa perempuan tetap bisa mengalami pelecehan meski mengenakan pakaian tertutup, longgar, bahkan seragam sekolah atau hijab. Artinya, pelecehan tidak terjadi karena pakaian tertentu, melainkan karena masih ada cara pandang yang menganggap tubuh perempuan sebagai sesuatu yang bisa dinilai, dibahas, dan diganggu sesuka hati.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: