Dunia Maya yang Berbahaya, Densus 88 Ungkap 70 Anak Terpapar Paham Kekerasan di Medsos
ilustrasi -Foto : Freepix-
RADARTVNEWS.COM - Seorang anak berseragam sekolah berdiri kaku di layar video. Di tangannya, sebuah replika pistol dikokang, diarahkan ke tubuh anak lain yang berdiri beberapa langkah di depannya. Tak ada letupan. Hanya bunyi pelatuk yang terdengar—namun cukup untuk membuat siapa pun yang menontonnya tercekat.
Di video lain, seorang remaja berpakaian gelap dengan tenang menuangkan serbuk hitam ke dalam sepotong pipa. Sambil bekerja, ia menjelaskan tahap demi tahap dalam bahasa Inggris. Di depannya tersusun rapi peralatan elektronik. Tak ada ekspresi ragu, tak ada rasa takut. Semua tampak seperti eksperimen biasa—padahal yang dirakit berpotensi mematikan.
Potongan-potongan video itulah yang diputar Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri dalam jumpa pers bertajuk Penanganan Penyebaran Paham Kekerasan melalui Daring terhadap Anak di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu 7 Januari 2026.
Dari penelusuran aparat, video-video tersebut berasal dari sebuah komunitas daring bernama True Crime Community—ruang maya yang ternyata menjadi pintu masuk paham kekerasan bagi anak-anak dan remaja.
Densus 88 menemukan sedikitnya 70 anak berusia 11 hingga 18 tahun terpapar konten kekerasan yang mengarah pada ekstremisme dan terorisme melalui komunitas tersebut. Paham itu menyebar lewat berbagai platform digital, dikemas dalam video pendek, animasi, meme, hingga musik yang tampak menarik dan menggugah adrenalin.
“Ini bukan organisasi dengan struktur atau tokoh pendiri. True Crime Community tumbuh secara sporadis, hasil pertemuan minat terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang bersifat transnasional,” ujar juru bicara Densus 88 Antiteror Polri, Komisaris Besar Mayndra Eka Wardhana.
Menurut Mayndra, konten semacam itu sangat berbahaya bagi anak-anak yang masih berada dalam fase pencarian jati diri. Secara psikologis, mereka belum memiliki kemampuan berpikir kritis dan cenderung mencari pengakuan. Paparan berulang dapat memengaruhi emosi, pola pikir, hingga perilaku.
Fenomena ini bukan tanpa preseden. Mayndra menyinggung sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan remaja di luar negeri—mulai dari Robin M. Westman yang melakukan penembakan di gereja Katolik di Amerika Serikat, hingga Trinity Shockley yang merencanakan penembakan di sekolah pada Februari 2025.
Kasus terbaru terjadi di Odintsovo, Moskwa, Rusia. Pada 16 Desember 2025, seorang remaja berusia 15 tahun, Timofey F, melakukan penusukan. Dalam foto yang diunggahnya ke komunitas tersebut, terlihat senjata dengan tulisan di gagangnya: “Jakarta Bombing 2025.”
“Foto itu diunggah sendiri oleh pelaku ke dalam komunitas ini. Diduga, ia terinspirasi dari insiden bom di SMAN 72 Jakarta,” kata Mayndra.
Dari penyelidikan kasus SMAN 72, aparat menemukan pelaku memiliki karakter sangat introvert dan nyaris tak memiliki kemampuan bersosialisasi.
Temuan ini mendorong Densus 88 melakukan langkah pencegahan lebih awal terhadap anak-anak lain yang menunjukkan pola serupa.
Intervensi dilakukan di sejumlah daerah sejak Desember 2025. Puncaknya, pada 22 Desember 2025, Densus 88 bersama kementerian dan lembaga terkait melakukan pendampingan terhadap 70 anak yang teridentifikasi terpapar paham kekerasan.
Mayoritas dari mereka berusia 15 tahun dan tersebar di 19 provinsi, dengan jumlah terbanyak di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
