Dunia Bergerak Bangun Kembali Gaza, PBB Perkirakan Biaya Rekonstruksi Capai 70 Miliar Dolar AS
-Dok. AFP-
RADARTVNEWS.COM - Upaya rekonstruksi besar-besaran di Jalur Gaza resmi dimulai usai dua tahun konflik yang menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya pembangunan kembali mencapai sekitar 70 miliar dolar AS atau lebih dari Rp1.100 triliun.
Menurut Program Pembangunan PBB (UNDP), perang berkepanjangan telah menyebabkan kehancuran yang luar biasa. Sedikitnya 50 hingga 55 juta ton puing menutupi seluruh Gaza. Pejabat UNDP untuk Bantuan kepada Rakyat Palestina, Jaco Cilliers, mengatakan pembersihan puing-puing ini menjadi tantangan besar sebelum proses pembangunan dimulai sepenuhnya.
Cilliers menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza akan membutuhkan waktu sangat panjang. “Kami belum bisa memastikan berapa lama proses ini berlangsung, karena sangat bergantung pada jumlah dana yang masuk. Namun, pemulihan penuh kemungkinan bisa memakan waktu berdekade-dekade,” ujarnya pada Selasa (15/10).
UNDP mencatat sekitar 81.000 ton puing berhasil disingkirkan sejauh ini. Meski demikian, angka itu masih sangat kecil dibanding total kerusakan yang terjadi. Banyak wilayah masih tertimbun reruntuhan, bahkan diduga masih terdapat jenazah warga Palestina yang belum ditemukan di bawah puing bangunan.
BACA JUGA:Hamas Pastikan Tak Akan Pimpin Gaza Setelah Perang, Tapi Tetap Jadi Bagian Palestina
Sejumlah negara telah menyatakan kesiapan membantu pendanaan pembangunan kembali Gaza. Dukungan datang dari negara-negara Eropa, Kanada, Amerika Serikat, serta beberapa negara Arab. PBB menilai kolaborasi internasional sangat penting agar Gaza kembali layak huni bagi jutaan penduduknya.
Kota Gaza menjadi daerah yang paling parah terdampak. Data UNDP menunjukkan sekitar 83 persen bangunan di wilayah itu mengalami kerusakan, termasuk rumah tinggal, rumah sakit, dan sekolah. Ribuan warga kini mulai kembali ke lingkungan mereka, berusaha membangun kehidupan baru di tengah reruntuhan.
Selain bantuan finansial, negara-negara mitra juga tengah menyiapkan logistik dan tenaga teknis untuk mendukung tahap awal rekonstruksi. Alat berat telah dikerahkan untuk membersihkan sisa-sisa bangunan di berbagai titik, menjadi simbol awal kebangkitan Gaza setelah perang.
PBB menekankan bahwa proses pemulihan Gaza bukan sekadar soal pembangunan infrastruktur, tetapi juga pemulihan sosial dan kemanusiaan. Dukungan jangka panjang dari komunitas internasional dibutuhkan agar proses ini berjalan berkelanjutan dan tidak berhenti di tengah jalan.
BACA JUGA:Ribuan Warga Gaza Sambut Pulang Ratusan Tahanan Palestina yang Dibebaskan Israel
Di sisi lain, Prancis dan Mesir berencana menggelar konferensi internasional untuk membahas mekanisme rekonstruksi Gaza. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyebut gencatan senjata antara Hamas dan Israel sebagai langkah penting, meski situasi masih rapuh dan berisiko kembali memanas.
Barrot menegaskan tiga prioritas utama Prancis: memperluas bantuan kemanusiaan, menjamin keamanan warga Gaza, dan membangun pemerintahan yang stabil di bawah Otoritas Palestina. Ia juga mengungkapkan bahwa Prancis bersama Inggris dan Amerika Serikat tengah menyiapkan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk membentuk pasukan stabilisasi internasional yang akan menjaga perdamaian di wilayah itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: