KTT PBB Memanas: Prancis-Saudi Dorong Solusi Dua Negara, AS-Israel Ancam Boikot
-Dok. Reuters-
RADARTVNEWS.COM - Prancis dan Arab Saudi menginisiasi pertemuan di markas besar PBB, New York, pada Senin (21/9). Forum itu menghadirkan puluhan kepala negara untuk membicarakan dukungan terhadap solusi dua negara (two state solution), yaitu Israel dan Palestina hidup merdeka berdampingan dengan damai. Pertemuan ini berlangsung di sela Sidang Majelis Umum PBB dan dipandang sebagai langkah besar menghidupkan kembali diplomasi Timur Tengah.
Sejumlah negara diperkirakan akan menyatakan pengakuan resmi terhadap Palestina, termasuk Indonesia. Prancis, Inggris, Kanada, Australia, hingga Portugal disebut sudah menegaskan posisi mereka. Langkah ini dipandang sebagai dorongan internasional terbesar dalam beberapa dekade terhadap gagasan dua negara yang kian tergerus oleh perang di Gaza dan aksi pemukim Israel di Tepi Barat.
Namun, Israel dan Amerika Serikat menolak keras forum ini. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengecam inisiatif tersebut dengan menyebutnya sebagai “sirkus”. Menurutnya, upaya internasional itu justru menjadi “hadiah bagi terorisme”. Pemerintah AS, sekutu utama Israel, bahkan memperingatkan adanya konsekuensi bagi negara yang menentang posisi Israel, termasuk Prancis.
Pertemuan berlangsung bersamaan dengan operasi darat Israel yang semakin intensif di Gaza City. Banyak negara mendesak gencatan senjata demi menghentikan korban sipil. Majelis Umum PBB sebelumnya sudah mendukung New York Declaration, dokumen tujuh halaman yang memuat seruan gencatan senjata, pembebasan sandera, serta akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Dapat Urutan Ketiga Pidato di Sidang Umum PBB 2025
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan deklarasi itu bukan sekadar janji kosong. Ia menyebutnya sebagai “peta jalan” yang dimulai dengan gencatan senjata, pembebasan sandera, dan distribusi bantuan. Setelah tahapan mendesak itu tercapai, langkah selanjutnya akan berfokus pada rencana jangka panjang menuju perdamaian Israel-Palestina.
Meski begitu, Israel menimbang opsi balasan terhadap langkah Prancis dan sekutu-sekutunya. Kemungkinan yang muncul antara lain aneksasi sebagian wilayah Tepi Barat hingga pembatasan hubungan bilateral dengan negara pengusung deklarasi. Sementara itu, Washington mempertegas posisinya dengan ancaman konsekuensi diplomatik bagi pihak yang mengambil langkah bertentangan dengan Israel.
Presiden Prancis Emmanuel Macron sejak Juli lalu telah mengumumkan niat mengakui negara Palestina. Ia berharap langkah itu bisa memberi momentum baru setelah sebelumnya hanya negara-negara kecil yang berani mengambil sikap serupa. “Mereka ingin negara, dan kita tidak boleh mendorong mereka ke arah Hamas,” kata Macron.
Walau dukungan internasional semakin besar, skeptisisme masih terasa. Presiden Palestina Mahmoud Abbas tidak bisa hadir langsung karena penolakan visa oleh Amerika Serikat, sehingga hanya memberikan pidato melalui video. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pun mengikuti forum secara virtual. Kehadiran keduanya disetujui oleh Majelis Umum PBB lewat konsensus tanpa pemungutan suara.
BACA JUGA:AS Lagi-Lagi Gunakan Hak Veto, Resolusi DK PBB Gencatan Senjata Gaza Gagal
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
