BANNER HEADER DISWAY HD

De Djawatan: Hutan ‘Lord of the Rings’ di Banyuwangi yang Bikin Takjub

De Djawatan: Hutan ‘Lord of the Rings’ di Banyuwangi yang Bikin Takjub

De Djawatan--Google Maps Ifan Chang (Yifan)

RADARTVNEWS.COM - Di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, terdapat sebuah hutan lindung yang kini telah berubah menjadi destinasi wisata alam yang sangat populer: De Djawatan. Dikelola oleh Perhutani KPH Banyuwangi, hutan ini memadukan keindahan estetika pohon trembesi raksasa dengan nilai historis dan damar sosial bagi warga sekitar. 

Jejak Sejarah & Transformasi Fungsi

Awalnya, area tersebut dikenal dengan nama Tapel Pelas atau “TP”, difungsikan sebagai tempat penimbunan kayu milik Perhutani. Fungsi ini tercermin dari aktivitas pengumpulan kayu jati dan penggunaan jalur rel kereta yang mengangkut kayu ke pelabuhan selama masa kolonial Belanda.

Seiring waktu, karena potensi estetika hutan trembesi yang unik dan makin dikesampingkan kebutuhan fungsi industri, pemerintah setempat bersama Perhutani membuka De Djawatan sebagai kawasan wisata alam resmi pada Juni 2018.

Keunikan Alam & Daya Tarik Wisata

De Djawatan seluas sekitar 3,8 hingga 9 hektar (tergantung sumber) dipenuhi pohon trembesi (Samanea saman) berumur ratusan tahun, dengan cabang yang lebat, lumut, dan epifit yang menjuntai, menciptakan suasana seperti di dunia fantasi—sejumlah pengunjung menyebutnya mirip dengan Hutan Fangorn dari film Lord of the Rings.

Pepohonan tinggi tersebut menyediakan keteduhan, suasana sejuk, serta jalur-jalur kecil untuk berjalan kaki santai. Cahaya matahari pagi atau sore yang menembus sela-sela dahan memberikan efek visual yang dramatis.

Fasilitas pendukung mulai sederhana hingga memadai: terdapat spot foto kreatif seperti rumah pohon, jembatan kayu, area duduk santai, gazebo, warung makan, kios minuman, mushola, dan toilet umum. Lokasi yang tidak terlalu terpencil dan akses jalan relatif mudah menambah nilai kenyamanan pengunjung. 

BACA JUGA:Mengintip Pulau Menjangan: Surga Tersembunyi di Ujung Timur Jawa

Dampak Sosial-Ekonomi & Kesejahteraan Warga

Pengembangan De Djawatan sebagai destinasi wisata membawa efek signifikan terhadap warga setempat.

Penelitian menunjukkan bahwa kunjungan wisata yang meningkat memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui lapangan pekerjaan baru, penghasilan tambahan dari warung-warung, hingga peningkatan pendapatan di sektor jasa kecil. Data dari Disbudpar Banyuwangi menyebutkan bahwa selama libur panjang seperti Hari Waisak 2025, De Djawatan dikunjungi ribuan wisatawan, sehingga perputaran ekonomi lokal turut meningkat. 

Kapan & Bagaimana Berkunjung

Untuk wisatawan yang ingin merasakan pesona alam ini, waktu terbaik adalah pagi atau sore hari ketika sinar matahari tidak terlalu terang dan suhu lebih sejuk. Jam buka umumnya mulai pagi hingga petang dengan tiket masuk yang masih relatif terjangkau—sekitar lima ribu rupiah. Pengunjung disarankan memakai alas kaki nyaman, membawa air minum, dan menjaga kebersihan agar kelestarian alam tetap terjaga.

De Djawatan bukan sekadar hutan wisata; ia adalah saksi bisu sejarah pemanfaatan alam, sekaligus simbol keharmonisan antara alam dan komunitas. Spot yang memukau, udara yang menyejukkan, dan kesederhanaan yang menenangkan menjadikannya pilihan ideal bagi siapa saja yang ingin lari sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: