BANNER HEADER DISWAY HD

Bahaya Male's Performative Phenomenon, Kenali Gejala dan Dampaknya yang Mulai Ada di Bandar Lampung

Bahaya Male's Performative Phenomenon, Kenali Gejala dan Dampaknya yang Mulai Ada di Bandar Lampung

gambar-foto:Ist-

RADARTVNEWS.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena menarik sekaligus memicu perdebatan intens di masyarakat: semakin banyak laki-laki yang secara eksplisit mengadopsi penampilan atau perilaku yang menyerupai wanita. Meskipun tren ini tidak secara spesifik terdokumentasi di Bandar Lampung, gejala serupa telah terlihat di berbagai kota besar di Indonesia dan menjadi sorotan di media dan komunitas.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan apa yang disebut "male's performative phenomenon", sebuah tren yang berkembang di kalangan Generasi Z. Dalam tren ini, pria menampilkan citra estetis terkurasi menggunakan gaya berpakaian artsy, mengenakan rambut model mullet, membawa tote bag, hingga membaca buku feminis di tempat umum biasanya tanpa komitmen ideologis yang mendalam. Motivasinya kerap dikaitkan dengan keinginan untuk meraih validasi sosial atau daya tarik romantis, bukan dilandasi pemahaman mendalam tentang feminisme atau kesetaraan gender.

Selain aspek sosial dan gaya hidup, ada juga penjelasan dari sudut pandang psikologis maupun medis. Sebagai contoh, beberapa pria mungkin menunjukkan perilaku feminin seperti gaya bicara, gerak tubuh, atau kebiasaan bukan karena niat menyerupai wanita, tetapi dipengaruhi faktor hormonal, pengalaman masa kecil, atau gangguan genetik seperti sindrom Klinefelter. Di sisi lain, muncul istilah seperti transvestic fetishism atau cross-dressing fetish yang dalam literatur medis digolongkan sebagai kondisi di mana pria heteroseksual mengenakan pakaian feminin untuk membangkitkan respons seksual.

Dari sisi sosial-agama, fenomena ini sering kali ditentang. Beberapa penulis menilai perilaku tersebut melanggar norma budaya dan agama, bahkan menyebutnya sebagai perilaku yang menyimpang. Dalam beberapa tulisan di platform seperti Kompasiana, fenomena pria feminin dikaitkan dengan istilah stigma atau propaganda dan bahkan dianggap bertentangan dengan nilai agama. Selain itu, beberapa ulama berpendapat bahwa pria menyerupai wanita adalah perbuatan yang tercela dan dilarang dalam Islam, merujuk pada teks hadits yang menyampaikan bahwa Rasulullah melaknat pria yang menyerupai wanita dan sebaliknya.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada perspektif yang lebih inklusif. Dalam beberapa tulisan, fenomena ini dianggap sebagai upaya redefinisi maskulinitas mencoba melonggarkan norma tradisional yang kaku yang bagi sebagian Gen Z merupakan ekspresi emosional dan identitas diri di era digital. Bagi kelompok ini, penampilan dan gaya bukan semata soal ketulusan atau propaganda, tetapi juga cara menavigasi identitas dan tekanan sosial di dunia modern.

BACA JUGA:Heboh Komunitas Gay di Lampung, Ahli Hukum Desak Raperda Larangan LGBT

Potensi dampaknya beragam: di satu sisi, fenomena ini bisa menjadi pintu masuk bagi diskusi kesetaraan gender mendorong keterlibatan lebih banyak pria dalam isu feminis selama dilakukan dengan ketulusan. Namun, jika hanya bersifat simbolik atau dangkal, dapat mengaburkan perjuangan struktural dan mereduksi feminisme menjadi sekadar estetika.

Rekapitulasi

* Fenomena tren: "male's performative phenomenon" di kalangan Gen Z estetika terkurasi, sering di medsos.

* Perspektif medis/psikologis: perilaku feminin bisa disebabkan oleh faktor hormonal, genetik, masa kecil, atau fetishism.

* Norma sosial dan agama: banyak yang menilai sebagai penyimpangan atau pelanggaran norma budaya/agama.

* Potensi perubahan: dapat membuka ruang diskusi gender, tetapi juga risiko menjadikan feminisme hanya sebagai mode.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: