Perampokan Besar di Museum Louvre, Delapan Perhiasan Sejarah Raib dalam Empat Menit
Ilustrasi--ISTIMEWA
RADARTVNEWS.COM - Museum Louvre, salah satu museum paling ikonik di dunia, mengalami salah satu perampokan paling berani dalam sejarahnya pada akhir pekan lalu. Tercatat delapan perhiasan bersejarah koleksi kekaisaran Prancis hilang dalam waktu kurang lebih empat hingga tujuh menit dari galeri yang sangat dijaga ketat, yakni Galeri Apollo.
Menurut keterangan resmi dari Kementerian Dalam Negeri Prancis, perampokan terjadi sekitar pukul 09.30 waktu setempat (07.30 GMT) ketika museum telah dibuka untuk umum. Para pelaku menggunakan basket lift untuk mencapai jendela di fasad bangunan yang menghadap Sungai Seine kemudian memotong kaca jendela dengan alat pemotong dan masuk ke ruang Galeri Apollo tempat koleksi “jewels of inestimable value” disimpan.
BACA JUGA:Ammar Zoni Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan, Ditempatkan di Lapas Super Maksimum Karanganyar
Dalam aksi kilat tersebut, pelaku berhasil membawa kabur delapan benda bersejarah, termasuk tiara, kalung, dan anting-anting yang sebelumnya pernah dikenakan oleh permaisuri Prancis seperti Marie‑Amélie, Hortense de Beauharnais dan Eugénie de Montijo. Crown Empress Eugénie yang terdiri dari ribuan berlian dan zamrud dilaporkan dijatuhkan oleh pelaku saat melarikan diri, tetapi kondisinya rusak.
Kerugian ditaksir mencapai sekira US$100 juta (± Rp1,6 triliun) yang hanya menghitung nilai pasar, belum termasuk nilai sejarah dan warisan budaya yang tak ternilai. Pihak museum pun langsung menutup museum untuk umum sementara waktu dan menutup akses ke area Galeri Apollo untuk keperluan penyelidikan forensik.
Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, menggambarkan aksi tersebut sebagai “perampokan besar” bukan hanya pencurian benda, melainkan pencurian warisan. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Laurent Nuñez, menyatakan tim penyelidik memandang peristiwa ini sebagai kejahatan tersusun dan profesional yang telah melakukan pengintaian sebelumnya.
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai sistem keamanan museum klasik yang kemudian dijejali dengan tantangan modern: kerumunan besar wisatawan, persoalan staf yang berkurang, serta biaya pemeliharaan keamanan yang terkadang tertinggal oleh dinamika zaman.
Bagi dunia seni dan budaya, kehilangan ini bukan sekadar uang yang raib, melainkan potongan sejarah yang hilang. Semua orang menanti: apakah benda-benda tersebut akan kembali utuh? Atau akan terpotong-potong dijual di pasar gelap tak terdeteksi? Ahli kriminologi internasional memperingatkan bahwa ketika sebuah karya warisan budaya mencuat dalam pencurian seperti ini, kemungkinan “hilang selamanya” menjadi sangat nyata.
Untuk saat ini, pihak Louvre dan kepolisian Paris masih mengumpulkan bukti, menelusuri CCTV, dan memeriksa setiap jalur pelarian. Tapi satu hal pasti: insiden ini akan menjadi catatan hitam dalam sejarah museum paling banyak dikunjungi di dunia, dan panggilan keras agar peningkatan sistem keamanan menjadi prioritas utama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
