Mencegah Korupsi Sejak Dini: Dimulai dari Hal Kecil di Sekitar Kita
--Freepik
BANDAR LAMPUNG, RADARTVNEWS.COM - Di tengah maraknya kasus korupsi besar di Indonesia, mungkin kita lupa bahwa budaya antikorupsi sesungguhnya harus dibangun dari hal-hal kecil dan sejak usia dini.
Sejak awal 2025, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan mitra strategis memperkuat program Pendidikan Antikorupsi (PAK) sebagai langkah pencegahan terhadap korupsi di tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Salah satu upaya terbaru adalah kegiatan “Mendongeng dan Nobar Film Antikorupsi” yang melibatkan ratusan pelajar dari PAUD hingga SMP di Jakarta pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, yang menegaskan pentingnya menanamkan integritas sejak usia dini.
Pada Februari 2025, KPK menggandeng enam kementerian mulai dari Kemenko PMK hingga Kemendikbud Ristek untuk memasukkan nilai-nilai anti korupsi secara resmi ke dalam kurikulum pendidikan nasional, dari jenjang anak, dasar, hingga tinggi. Hingga Februari 2025, sebanyak 83% daerah telah mengadopsi Peraturan Kepala Daerah tentang implementasi pendidikan antikorupsi, meski pelaksanaannya di lapangan masih belum merata.
Dikutip dari Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2023–2024 yang dirilis KPK, nilai integritas sektor pendidikan mengalami penurunan dari 71 ke 69,5 poin, disertai temuan bahwa 43% siswa dan lebih dari 58% mahasiswa mengaku pernah mencontek, dan praktik suap terhadap guru tetap umum di banyak sekolah.
Berdasarkan fakta tersebut, korupsi bisa dimulai dari perilaku kecil yang dibiarkan, seperti tidak mengembalikan uang kembalian, menyalahgunakan jabatan kecil, atau meniru tugas teman. Maka edukasi anti korupsi yang efektif seharusnya berakar pada nilai-nilai harian, contohnya jujur, peduli, adil, disiplin, dan tanggung jawab yang dikenal melalui sembilan nilai utama anti korupsi (Jujur, Mandiri, Tanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Kerja Keras, Adil).
Peran sekolah sangat vital, guru tidak hanya mengajar materi akademik, tetapi juga menjadi teladan keteladanan dalam integritas. Orang tua juga perlu mendukung melalui contoh di rumah. Ketika anak melihat perilaku jujur diaplikasikan dalam keluarga seperti membayar sesuai harga, mengakui kesalahan kecil, atau tidak mencontek saat ujian mereka belajar bahwa integritas adalah norma, bukan beban.
Namun, tantangannya masih banyak. Banyak sekolah belum punya panduan atau pelatihan yang cukup. Aturan yang ada di daerah juga belum selalu dijalankan dengan baik. Untuk mengatasinya, perlu ada pelatihan rutin untuk guru, serta sosialisasi terus-menerus ke siswa dan orang tua lewat cara yang menarik, seperti permainan, cerita, dan diskusi ringan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
