Kehebohan mengenai isu ini turut dipicu oleh video yang diunggah seorang warganet asal Kanada yang dikenal sebagai "ahli meteorologi amatir", yang menyebut gempa dahsyat berkekuatan M7,0-9,0 bakal menghantam Indonesia sebelum akhir tahun 2026, khususnya mengingatkan warga Jawa dan Jakarta untuk bersiap menghadapi gempa besar. Ramalan tersebut sontak memicu kehebohan warganet, meski tidak memiliki dasar ilmiah resmi dari lembaga kegempaan Indonesia.
Meski isu megathrust ramai dibicarakan, data BMKG menunjukkan aktivitas kegempaan di Indonesia masih berada dalam pola yang biasa terjadi. Pada 12 September 2026, tercatat gempa magnitudo 5,9 dengan pusat sangat dekat Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, namun berkedalaman 376 kilometer sehingga tergolong gempa dalam. Selain itu, gempa magnitudo 5,6 juga tercatat terjadi di sekitar Bayah, Banten, pada 14 September 2026.
Menyikapi potensi megathrust ini, para pakar dan BMKG kompak menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah menebak kapan gempa besar akan terjadi, melainkan memastikan kesiapsiagaan masyarakat dan bangunan dalam menghadapi kemungkinan tersebut. Edukasi mitigasi bencana, penguatan struktur bangunan tahan gempa, hingga simulasi evakuasi tsunami menjadi langkah penting yang perlu terus digencarkan, terutama di wilayah-wilayah yang berada dekat zona seismic gap seperti Selat Sunda dan Mentawai.