Waspada Gempa Megathrust, BMKG Tegaskan Bukan Ramalan tapi Potensi yang Harus Dimitigasi

Sabtu 19-09-2026,19:31 WIB
Reporter : MG – Sarah Wafi Taqiya
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM – Isu gempa megathrust kembali ramai jadi perbincangan publik dalam beberapa waktu terakhir. Berbagai narasi bermunculan di media sosial, mulai dari kekhawatiran warga hingga unggahan viral yang mengklaim gempa dahsyat akan segera melanda Indonesia. Lalu, sebenarnya seperti apa fakta dan penjelasan resmi mengenai ancaman gempa megathrust ini?

 

 

Gempa megathrust merupakan gempa bumi yang terjadi akibat proses tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang menunjam masuk ke bawah wilayah Indonesia, dengan laju penunjaman sekitar 60-70 mm per tahun. Zona pertemuan lempeng inilah yang dikenal sebagai zona megathrust, dan proses penunjamannya masih terus berlangsung hingga saat ini.

 

Berdasarkan kajian resmi para pakar gempa bumi yang tertuang dalam buku "Peta Sumber dan Bahaya Gempabumi Indonesia", gerakan penunjaman lempeng ini berpotensi mengakibatkan gempa megathrust dengan magnitudo maksimum yang diperkirakan dapat mencapai M 8,7.

 

 

Menurut penjelasan Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, ada dua zona yang perlu mendapat perhatian khusus karena telah lama tidak mengalami gempa besar atau disebut seismic gap. Wilayah selatan Banten dan Selat Sunda tercatat mengalami kekosongan gempa besar sejak tahun 1757, atau sudah 269 tahun, sementara wilayah Mentawai dan Siberut mengalami kekosongan serupa sejak 1797 atau 229 tahun lalu.

 

Ia juga menjelaskan bahwa zona megathrust Selat Sunda dinilai paling berpotensi berdampak langsung ke wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Terkait potensi tsunami, dalam perhitungan model, gempa megathrust ini berpotensi memicu gelombang tsunami di atas 3 meter sebagai efek awal, namun jika kondisi pesisir landai, ketinggian gelombang bisa mencapai 4 hingga 20 meter.

 

Di tengah kekhawatiran publik, sempat beredar narasi viral yang mengklaim gempa megathrust berkekuatan magnitudo 7,0 hingga 9,1 akan melanda Indonesia sebelum akhir tahun 2026, bahkan mencatut nama resmi BMKG seolah telah mengeluarkan peringatan tersebut. BMKG secara tegas membantah dan memastikan bahwa informasi tersebut adalah hoaks.

BACA JUGA:BMKG Perkuat Kesiapagan Hadapi Gempa dan Tsunami di The Sanur

Pakar Kelautan BMKG turut mengingatkan masyarakat untuk bisa membedakan secara jernih antara istilah "potensi" dan "prediksi" agar tidak terjebak dalam kepanikan. Secara ilmiah, zona seperti segmen Mentawai dan Selat Sunda memang masuk kategori seismic gap yang secara teoritis dapat menghasilkan gempa berkekuatan di atas magnitudo 8,0 hingga melebihi 9,0, namun potensi ini harus direspons dengan kesiapsiagaan mitigasi, bukan dengan menyebarkan isu tak berdasar. BMKG pun mengimbau masyarakat di seluruh Indonesia untuk tetap tenang, tidak panik, dan beraktivitas secara normal.

Kategori :