Mengenal People Pleasing dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Jumat 07-08-2026,13:50 WIB
Reporter : MG - Muthia Afifah
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM – Pernah merasa sulit mengatakan "tidak" meski sedang lelah? Atau sering mengutamakan kebahagiaan orang lain hingga mengorbankan kebutuhan diri sendiri? Jika terjadi sesekali, hal tersebut mungkin merupakan bentuk kepedulian. Namun, jika menjadi kebiasaan yang terus berulang, kondisi tersebut dapat mengarah pada perilaku yang dikenal sebagai people-pleasing.

People-pleasing merupakan kecenderungan seseorang untuk terus berusaha menyenangkan orang lain, bahkan ketika harus mengabaikan perasaan, kebutuhan, atau batasan dirinya sendiri. Meski bukan termasuk gangguan kesehatan mental, para psikolog menyebut perilaku ini dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Menurut American Psychological Association (APA), kebiasaan selalu berusaha memenuhi harapan orang lain dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami stres, kelelahan emosional (emotional exhaustion), hingga kesulitan menetapkan batasan (boundaries) dalam hubungan sosial maupun pekerjaan.

Perilaku people-pleasing sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola asuh, pengalaman masa kecil, keinginan untuk diterima dalam lingkungan sosial, atau rasa takut terhadap penolakan dan konflik. Akibatnya, seseorang cenderung mengatakan "iya" meski sebenarnya ingin menolak karena khawatir mengecewakan orang lain.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa kemampuan menetapkan batasan yang sehat dan bersikap asertif berhubungan dengan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, kesulitan mengekspresikan kebutuhan diri sendiri dapat meningkatkan tekanan emosional dan memengaruhi kualitas hidup.

BACA JUGA:Jangan Salah Paham, Self-Talk Positif Justru Bermanfaat bagi Kesehatan Mental

People-pleasing juga berbeda dengan sikap ramah atau suka menolong. Membantu orang lain merupakan perilaku positif apabila dilakukan secara sukarela dan tidak merugikan diri sendiri. Sebaliknya, people-pleasing muncul ketika seseorang merasa "harus" menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan atau menghindari rasa bersalah.

Para ahli menyarankan agar seseorang mulai belajar mengenali batas kemampuan diri, berani mengatakan "tidak" ketika diperlukan, serta memahami bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan membantu orang lain. Melatih komunikasi yang asertif juga dapat membantu menyampaikan pendapat tanpa harus bersikap kasar atau menyakiti orang lain.

Kesimpulan People-pleasing bukan merupakan gangguan kesehatan mental, melainkan pola perilaku yang membuat seseorang cenderung mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memicu stres, kelelahan emosional, dan kesulitan menetapkan batasan. Karena itu, belajar bersikap asertif dan menjaga keseimbangan antara membantu orang lain serta memenuhi kebutuhan diri sendiri menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.

Kategori :