Di Balik Slogan "Boys Don't Cry," Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Senin 15-06-2026,15:17 WIB
Reporter : MG - Rizky Kurniawan Saputra
Editor : Reki. M

RADARTVNEWS.COM - “Laki-laki tidak boleh menangis.” Kalimat ini mungkin terdengar biasa bagi banyak orang. 

Namun, di balik ungkapan tersebut tersimpan sebuah fenomena yang dikenal sebagai toxic masculinity. Istilah ini merujuk pada pandangan bahwa laki-laki harus selalu kuat, dominan, berani, dan tidak boleh menunjukkan emosi atau kerentanan.

Padahal, menjadi laki-laki tidak berarti harus menekan perasaan. Ketika standar maskulinitas yang kaku terus dipaksakan, dampaknya bisa merugikan, baik bagi individu maupun lingkungan sekitarnya.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Banyak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan.

Mereka juga sering didorong untuk menyelesaikan masalah sendiri tanpa meminta bantuan. Pengaruh keluarga, teman sebaya, budaya populer, hingga media sosial turut memperkuat pandangan tersebut.

Tidak jarang seseorang dianggap lebih “jantan” ketika bersikap agresif, dominan, atau mampu menyembunyikan emosinya. 

Akibatnya, banyak laki-laki merasa harus selalu terlihat baik-baik saja meskipun sedang mengalami tekanan mental yang berat.

BACA JUGA: Merasa Harus Sibuk Terus? Bisa jadi Kamu Mengalami Toxic Produktivitas, Ini Dampak Negatifnya!

Toxic masculinity dapat terlihat dalam berbagai perilaku sehari-hari, seperti:

  1. Menolak menunjukkan kesedihan atau menangis.
  2. Menganggap meminta bantuan sebagai bentuk kelemahan.
  3. Merasa harus selalu dominan dalam hubungan sosial.
  4. Sulit berempati terhadap orang lain.
  5. Menganggap perilaku agresif sebagai sesuatu yang keren.
  6. Merendahkan perempuan atau kelompok yang dianggap berbeda.
  7. Menekan emosi hingga akhirnya meledak dalam bentuk kemarahan.

Perilaku-perilaku tersebut sering kali dianggap normal, padahal dapat menjadi awal munculnya berbagai masalah sosial dan psikologis.

Salah satu dampak terbesar toxic masculinity adalah terganggunya kesehatan mental. Ketika seseorang terus menahan emosi, stres dan tekanan dapat menumpuk tanpa jalan keluar yang sehat.

Banyak remaja laki-laki akhirnya memilih diam ketika menghadapi kecemasan, depresi, atau masalah pribadi. Mereka takut dianggap lemah jika bercerita kepada keluarga, teman, atau tenaga profesional.

Tidak hanya itu, toxic masculinity juga dapat meningkatkan risiko perilaku agresif, perundungan (bullying), kekerasan, hingga hubungan sosial yang tidak sehat.

Dalam beberapa kasus, tekanan untuk selalu terlihat kuat membuat seseorang merasa terisolasi dan kesepian meskipun berada di tengah banyak orang.

Sifat seperti keberanian, tanggung jawab, dan ketegasan tetap merupakan hal positif. Namun, sifat tersebut menjadi tidak sehat ketika disertai penolakan terhadap emosi, empati, atau kebutuhan untuk mencari bantuan.

Kategori :