Di Balik Slogan "Boys Don't Cry," Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Senin 15-06-2026,15:17 WIB
Reporter : MG - Rizky Kurniawan Saputra
Editor : Reki. M

Saat ini, semakin banyak pihak yang mendorong konsep maskulinitas sehat, yaitu cara pandang bahwa laki-laki tetap bisa kuat tanpa harus menekan emosi atau mengabaikan perasaan.

Konsep ini menekankan bahwa laki-laki tetap bisa kuat sekaligus mampu menunjukkan empati, mengelola emosi, dan menghargai orang lain.

BACA JUGA: Mengenal Toxic Relationship, Hubungan Tidak Sehat yang Kerap Tak Disadari

Perlu diketahui bahwasannya, pola pikir dan perilaku yang terbentuk akibat toxic masculinity dapat diubah melalui kesadaran diri, dukungan lingkungan, dan kebiasaan yang lebih sehat. 

Langkah pertama adalah menyadari bahwa setiap manusia berhak merasakan dan mengekspresikan emosi. Mulailah dengan lebih jujur terhadap perasaan sendiri.

Tidak ada salahnya berbicara kepada teman terpercaya, keluarga, atau profesional ketika menghadapi masalah.

Selain itu, penting untuk membangun empati dan menghentikan kebiasaan menghakimi orang lain berdasarkan stereotip gender.

Mengikuti komunitas yang mendukung kesehatan mental juga dapat membantu seseorang memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.

Menjadi kuat bukan berarti memendam semuanya sendirian. Justru keberanian untuk mengenali dan mengelola emosi merupakan salah satu bentuk kekuatan yang sesungguhnya.

Laki-laki tidak harus selalu terlihat tangguh setiap saat. Mereka juga manusia yang berhak merasa sedih, takut, dan membutuhkan dukungan.

Dengan memahami hal tersebut, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan suportif bagi semua orang. (*) 

Kategori :