Sebelum mengomentari sesuatu, biasakan berpikir apakah komentar tersebut bisa menyakiti seseorang atau tidak. Jari yang mengetik cepat sering kali meninggalkan luka yang bertahan lama.
Selain itu, penting untuk menjaga privasi di media sosial. Hindari membagikan informasi pribadi secara berlebihan dan gunakan pengaturan privasi akun dengan bijak.
UNICEF juga menyarankan pengguna untuk memanfaatkan fitur block, mute, restrict, atau report jika menemukan tindakan perundungan online. Jika melihat teman menjadi korban cyberbullying, jangan hanya diam.
Dukungan kecil bisa sangat berarti bagi korban. Dengarkan cerita mereka, beri dukungan emosional, dan bantu mereka mencari bantuan kepada orang terpercaya seperti keluarga, guru, atau konselor. Terkadang korban hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi.
Bagi korban cyberbullying, penting untuk tidak memendam semuanya sendirian. Simpan bukti seperti screenshot atau pesan yang diterima, lalu laporkan kepada pihak terkait jika situasinya semakin parah. Mencari bantuan bukan berarti lemah, tetapi bentuk perlindungan terhadap diri sendiri.
Cyberbullying bukan sekadar masalah dunia maya. Dampaknya nyata dan bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang dalam jangka panjang.
Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Internet seharusnya menjadi ruang untuk berbagi, belajar, dan berkomunikasi secara sehat, bukan tempat untuk saling menjatuhkan. Mari jaga ketikan kita! (*)