Yang juga sering disalahpahami, Stoicism bukan berarti seseorang harus menekan emosi. Marah, sedih, kecewa, atau kesal tetap menjadi hal yang wajar. Stoicism tidak melarang perasaan itu muncul. Bedanya, filosofi ini mengajak kita supaya tidak langsung bereaksi mengikuti emosi tersebut.
Misalnya ketika mendapat komentar negatif atau kritik dari orang lain. Reaksi pertama biasanya ingin membalas atau merasa kesal. Stoicism mengajak kita berhenti sebentar dan melihat situasinya dengan lebih jernih. Apakah komentar itu memang sesuatu yang perlu dipikirkan serius, atau sebenarnya hanya opini orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.
Cara berpikir seperti ini terasa cukup dekat dengan kehidupan sekarang. Di era media sosial, orang sering tanpa sadar membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat orang lain terlihat lebih sukses atau lebih bahagia bisa membuat seseorang merasa tertinggal. Stoicism mencoba mengingatkan bahwa hidup orang lain bukan sesuatu yang perlu terus kita ukur dengan hidup kita sendiri.
Pemikiran Stoicism sendiri sudah dibahas sejak lama oleh beberapa filsuf, salah satunya Marcus Aurelius. Dalam catatan pribadinya, ia banyak menulis tentang pentingnya menjaga pikiran tetap jernih, bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Intinya, Stoicism mengajak seseorang untuk lebih sadar pada apa yang ada di dalam kendalinya sendiri. Ketika fokus itu mulai berubah, cara seseorang melihat masalah biasanya ikut berubah. Hal-hal yang dulu terasa besar kadang ternyata tidak perlu dipikirkan sedalam itu.