Mengenal Sikap Performative Male yang Kembali Ramai Dibicarakan di Media Sosial
Ilustrasi performative male-Pinterest-
RADARTVNEWS.COM - Belakangan ini, istilah performative male semakin sering muncul di media sosial dan jadi bahan obrolan banyak anak muda. Fenomena ini muncul seiring dengan kebiasaan orang yang makin aktif menampilkan diri di ruang digital, termasuk soal gaya hidup dan ketertarikan pribadi.
Performative male biasanya merujuk pada laki-laki yang menunjukkan minat tertentu bukan karena benar-benar suka, tapi lebih karena ingin terlihat menarik di mata perempuan. Misalnya, ada yang tiba-tiba terlihat suka minum matcha, membaca buku, atau mengikuti tren yang identik dengan selera perempuan, padahal sebelumnya tidak pernah terlihat seperti itu.
Perilaku ini sering dianggap sebagai bentuk pencitraan. Seseorang mencoba membangun kesan tertentu agar terlihat lebih peka, perhatian, atau berbeda dari kebanyakan laki-laki. Tujuannya jelas, yaitu untuk menarik perhatian dan mendapatkan respon positif dari orang yang diincar.
Namun, penting juga untuk memahami bahwa tidak semua laki-laki yang memiliki minat seperti itu bisa langsung disebut performative male. Ada juga yang memang benar-benar menyukai hal tersebut tanpa ada maksud tertentu. Kuncinya ada pada niat di balik tindakan tersebut.
Yang sering jadi masalah adalah ketika sikap ini hanya dilakukan sementara. Setelah mendapatkan perhatian atau mencapai tujuan tertentu, perilaku tersebut bisa berubah. Hal ini bisa menimbulkan kekecewaan, apalagi jika hubungan yang terjalin ternyata didasarkan pada kesan yang tidak sepenuhnya jujur.
BACA JUGA: Bahaya Male's Performative Phenomenon, Kenali Gejala dan Dampaknya yang Mulai Ada di Bandar Lampung
Fenomena ini juga tidak lepas dari pengaruh media sosial. Banyak orang merasa perlu menampilkan versi terbaik dari dirinya agar terlihat menarik dan relevan. Akibatnya, sebagian orang memilih menyesuaikan diri dengan apa yang sedang disukai banyak orang, meskipun itu bukan diri mereka yang sebenarnya.
Di sisi lain, istilah ini juga menimbulkan perdebatan. Tidak sedikit yang merasa label performative male terlalu mudah diberikan. Bisa saja seseorang memang sedang mencoba hal baru dan menemukan ketertarikan yang berbeda dari sebelumnya.
Pada akhirnya, fenomena ini jadi pengingat bahwa kejujuran dalam menunjukkan diri tetap penting. Menjadi diri sendiri mungkin terasa sederhana, tapi justru itu yang membuat hubungan lebih tulus dan bertahan lebih lama. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: