Generasi 8 Seconds? Alarm Bahaya Short Attention Span di Era Scroll Tanpa Henti

Generasi 8 Seconds? Alarm Bahaya Short Attention Span di Era Scroll Tanpa Henti

Ilustrasi Doomscrolling --Pinterest

RADARTVNEWS.COM - Fenomena menurunnya kemampuan fokus atau short attention span semakin menjadi sorotan di era digital. Terutama di kalangan generasi muda, kondisi ini tidak lagi sekadar kebiasaan, melainkan telah berkembang menjadi tantangan kognitif yang nyata.

Paparan konten digital yang cepat dan masif menjadi salah satu pemicu utama. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang terbiasa mengonsumsi informasi secara singkat dan instan.

Mulai dari video berdurasi pendek hingga notifikasi yang terus bermunculan, semuanya mendorong otak untuk terus berpindah fokus dalam waktu singkat. Akibatnya, kemampuan untuk mempertahankan perhatian dalam jangka panjang pun menurun.

Aktivitas seperti membaca buku, mengikuti perkuliahan, atau menyelesaikan pekerjaan menjadi terasa lebih sulit. Bahkan, banyak individu merasa cepat bosan meskipun sedang melakukan tugas penting.

BACA JUGA: Anak Kecil Kecanduan Bermain Smartphone? Ini 7 Aktivitas Pengganti Screen Time

Penelitian juga menunjukkan bahwa penurunan rentang perhatian ini terjadi secara signifikan dalam dua dekade terakhir. Pada awal 2000-an, rata-rata perhatian manusia terhadap layar digital berada di angka sekitar 150 detik.

Namun, angka tersebut terus menurun hingga mencapai sekitar 47 detik dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini tidak terjadi secara kebetulan.

Desain platform digital memang dirancang untuk menarik perhatian pengguna selama mungkin. Fitur seperti infinite scroll dan sistem notifikasi memanfaatkan mekanisme psikologis berupa dopamine reward.

Setiap konten baru memberikan sensasi kepuasan instan, sehingga pengguna terdorong untuk terus menggulir layar tanpa henti.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengganggu cara kerja otak. Individu menjadi lebih reaktif terhadap stimulus eksternal, namun kehilangan kemampuan untuk fokus mendalam.

Hal ini berdampak pada menurunnya kualitas berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan menyelesaikan masalah kompleks.

Fenomena ini juga berdampak pada kehidupan sosial. Interaksi tatap muka mulai tergantikan oleh komunikasi digital.

Banyak orang merasa lebih nyaman berinteraksi melalui layar dibandingkan secara langsung. Bahkan, aktivitas sederhana seperti makan bersama kini sering terganggu oleh penggunaan ponsel.

Selain itu, kemampuan untuk menikmati momen tanpa distraksi juga semakin berkurang. Rasa bosan yang dahulu menjadi ruang bagi refleksi dan kreativitas, kini cenderung dihindari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: