Human Rights Activist News Agency (HRANA) mencatat lebih dari 2.277 orang ditangkap sejak protes dimulai pada 28 Desember. Sementara itu, Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 51 demonstran tewas, termasuk sembilan anak-anak.
Gelombang demonstrasi ini disebut sebagai yang terluas sejak pemberontakan tahun 2022 pasca kematian Mahsa Amini. Untuk mencegah eskalasi, pengamanan diperketat di Teheran yang menjadi titik awal protes.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintahannya akan mendengarkan “tuntutan yang sah” dari para demonstran. Namun, Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad memperingatkan bahwa upaya menciptakan ketidakstabilan akan dibalas dengan “respons tegas”.
Sejumlah penangkapan terus dilakukan. Ketua Mahkamah Agung Provinsi Lorestan, Saeed Shahvari, mengumumkan penahanan demonstran di Azna dan Delfan. Bahkan, di Azna, kelompok perusuh dilaporkan menyerang markas polisi dan berupaya melucuti senjata petugas.
Eskalasi demonstrasi yang kian meluas ini dinilai mengancam keberlanjutan rezim yang berkuasa. Situasi tersebut juga memicu harapan kelompok pendukung monarki yang menilai momen perubahan kekuasaan di Iran semakin dekat. (*)