Mengenal MBTI, Tes Kepribadian yang Ramai Dibahas di Kalangan Gen Z
Ilustrasi MBTI-Pinterest-
RADARTVNEWS.COM – Empat huruf seperti INFJ, ENFP, atau ISTJ sekarang makin sering muncul di obrolan sehari-hari. Ada yang nulis di bio Instagram, ada juga yang jadi bahan tebak-tebakan pas baru kenalan. Bahkan, nggak sedikit yang menjadikannya patokan buat milih pasangan. Semua itu merujuk pada Myers-Briggs Type Indicator, atau yang lebih dikenal dengan MBTI.
MBTI sebenarnya bukan tes baru. Alat ini dikembangkan pada pertengahan abad ke-20 oleh Katharine Cook Briggs bersama putrinya, Isabel Briggs Myers. Konsepnya diambil dari teori tipe psikologis milik Carl Gustav Jung yang terbit tahun 1921. Jung menjelaskan bahwa setiap orang punya kecenderungan tertentu dalam melihat dunia dan mengambil keputusan. Dari situlah Briggs dan Myers menyusunnya jadi tes kepribadian yang lebih praktis.
Secara garis besar, MBTI membagi kepribadian manusia ke dalam 16 tipe. Dasarnya ada empat pasangan preferensi, yaitu ekstrovert–introvert, sensing–intuition, thinking–feeling, serta judging–perceiving. Kombinasi dari keempat aspek ini yang akhirnya menghasilkan tipe-tipe seperti ENFP atau ISTJ. Sistemnya terkesan simpel, dan mungkin itu yang bikin MBTI gampang dipahami serta cepat menyebar.
Di luar media sosial, MBTI sudah lama dipakai di dunia profesional. The Myers-Briggs Company mencatat, jutaan orang mengikuti tes ini setiap tahun. Banyak organisasi menggunakannya untuk pelatihan tim atau pengembangan kepemimpinan. Di beberapa negara, MBTI juga dimanfaatkan dalam konseling karier untuk membantu orang memahami gaya kerja mereka.
Meski populer, MBTI juga nggak lepas dari kritik. Sejumlah penelitian psikologi menunjukkan hasil MBTI bisa berubah kalau seseorang mengulang tes di waktu yang berbeda. Artinya, tingkat konsistensinya masih dipertanyakan. Selain itu, banyak akademisi lebih memilih model kepribadian Big Five Personality yang dianggap punya dukungan riset lebih kuat. Kritik lainnya menyebut MBTI terlalu mengotak-ngotakkan manusia, padahal kepribadian lebih sering berada di spektrum, bukan sekadar hitam dan putih.
Walau begitu, daya tarik MBTI tetap kuat, terutama di kalangan Generasi Z. Ada unsur pencarian identitas di dalamnya. Empat huruf terasa seperti ringkasan singkat tentang diri sendiri. Di tengah keinginan untuk lebih mengenal siapa diri kita, MBTI sering dijadikan titik awal. Apalagi, media sosial ikut mendorong trennya lewat konten-konten yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di Indonesia, tren ini juga terlihat dari meningkatnya minat pencarian tes MBTI secara online dalam beberapa tahun terakhir. Banyak mahasiswa memakainya untuk mengenali gaya belajar, memahami pertemanan, atau sekadar mencari jawaban kenapa mereka merasa “beda” dari yang lain.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: