Melacak Telapak Maling ; Yang Merasa Maling, Jangan Teriak!

Kamis 01-01-2026,19:00 WIB
Reporter : Syamsudin

Oleh: Syamsudin

Teriakan itu memecah pagi.

“Maliiing… maliiiing… maliiiing!”

Suara Pak Otong terdengar panik, berulang-ulang, seolah ada kejahatan besar yang baru saja terjadi.

Pak Ruwet, tetangga sebelah rumah, bergegas menghampiri. Nafasnya masih tersengal ketika bertanya, “Ada apa, Pak Otong?”

“Sendal jepit saya… hilang sebelah, Pak Wet,” jawab Pak Otong dengan wajah kusut dan suara terengah-engah.

Pak Ruwet spontan menepuk jidat.

“Waduh… saya kira apa. Cuma sendal jepit,” gumamnya pelan.

“Iya, Pak Wet,” sahut Pak Otong. “Tadi saya dengar suara brisik dari gudang. Pas saya cek, ada gerombolan celurut bawa kabur sendal saya!”

“Terus?” tanya Pak Ruwet.

“Saya kejar. Tapi tiba-tiba hilang. Kayaknya masuk got itu,” kata Pak Otong sambil menunjuk selokan di samping rumahnya.

Pak Ruwet tersenyum tipis. “Lho, Pak. Itu bukan orang. Itu celurut.”

Pak Otong menggeleng mantap. “Sama saja, Pak. Mau celurut, mau tikus, kerjanya tetap merusak dan maling.”

Pak Ruwet terdiam sejenak. Lalu menimpali dengan nada setengah bercanda, setengah getir.

“Benar juga. Tapi beda kelas, Pak. Celurut atau tikus sawah itu maling kelas teri. Yang bahaya itu tikus kantor—yang malingnya duet, duet negara.”

Kategori :