Keduanya terdiam. Angin pagi berembus pelan.
Dalam hati, Pak Ruwet bergumam: Kasihan Pak Otong. Mungkin pikirannya sedang kacau. Trauma setelah tanaman padinya gagal panen. Bukan karena tikus sawah, tapi… tikus kantor.
Maaf, ralat.
“Pak Wet,” suara Pak Otong memecah lamunannya, “menurut Bapak, saya harus lapor ke mana?”
Pak Ruwet menarik napas panjang.
“Kalau saran saya, Pak Otong, lapor saja ke Tuhan. Biar Tuhan sendiri yang menghukum pelakunya.”
Pak Otong mengangguk pelan.
“Iya, Pak Wet. Terima kasih sarannya. Nanti saya lapor ke Tuhan. Sekalian… saya mau laporkan juga tikus kantor yang nyolong duit negara.”
Ia pun melangkah pergi, meninggalkan sendal jepit sebelah—dan pertanyaan besar yang masih bergema di udara; mengapa yang paling keras teriak maling, sering kali bukan korban sebenarnya?. (*)