Habib Umar bin Hafidz Jawab Pertanyaan Deddy Corbuzier soal Tuhan dan Tragedi Palestina

Senin 20-10-2025,19:42 WIB
Reporter : MG-Ratu Adzkia NB
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM - Habib Umar bin Hafidz dikenal sebagai ulama besar asal Yaman yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam. Beliau merupakan pengasuh Darul Musthofa Tarim, Hadhramaut, Yaman, sekaligus keturunan Rasulullah SAW. Sosoknya dikenal lembut, berilmu tinggi, dan berdakwah dengan pendekatan penuh kasih sayang. Ribuan santri dari berbagai negara datang berguru kepadanya untuk menimba ilmu agama dan memperdalam akhlak.

Sebagai seorang ulama yang juga dikenal sebagai wali Allah, Habib Umar kerap disebut memiliki karomah yang luar biasa. Banyak kisah yang menunjukkan kebesaran hati dan ketenangan beliau dalam menghadapi berbagai peristiwa. Salah satunya adalah ketika seorang pria asal Afrika langsung memeluk Islam hanya setelah melihat wajahnya. Tanpa banyak penjelasan, pria itu mengucap dua kalimat syahadat dan berganti nama menjadi Muhammad Nur.

Kisah lain terjadi ketika Habib Umar berdakwah di pedalaman Afrika dan bertemu seekor singa. Saat singa itu mendekati mobilnya, Habib Umar tetap tenang. Ia berbicara kepada hewan tersebut dan memberinya sebutir pisang. Ajaibnya, singa itu menerima pisang itu, menundukkan kepala, lalu pergi tanpa menyerang. Kejadian ini menjadi bukti kebesaran Allah SWT dan ketulusan hati Habib Umar dalam berdakwah.

Nama Habib Umar kembali menjadi sorotan publik usai tampil dalam podcast Close The Door bersama Deddy Corbuzier, Senin (20/10/2025). Dalam pertemuan tersebut, Deddy menyampaikan pertanyaan mendalam seputar keberadaan Tuhan dan penderitaan yang terjadi di dunia. Salah satu yang paling menggugah adalah pertanyaan tentang anak-anak Palestina yang menjadi korban perang.

“Saya pernah debat dengan seseorang yang bilang, ‘Kalau Tuhan memang ada, kenapa anak-anak di Palestina yang masih kecil harus meninggal seperti itu?’” ujar Deddy dengan nada serius. Pertanyaan itu ia sampaikan langsung kepada Habib Umar, yang didampingi oleh Habib Jindan bin Novel sebagai penerjemah selama podcast berlangsung.

Menjawab pertanyaan itu, Habib Umar menjelaskan bahwa setiap kejadian di dunia terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT. Termasuk musibah dan penderitaan yang menimpa manusia, semuanya memiliki hikmah yang terkandung di baliknya. “Kalau tidak ada ujian, bagaimana bisa diketahui siapa yang bersabar dan siapa yang berpaling dari Allah?” ujar Habib Umar dengan suara lembut.

BACA JUGA:Jepang Hadirkan Masjid Berjalan Pertama di Dunia, Dukung Fasilitasi Ibadah Umat Muslim Global

Beliau kemudian memberikan perumpamaan tentang seorang pasien yang harus kehilangan jarinya demi keselamatan tubuhnya. “Seseorang terkadang sabar ketika jarinya dipotong, karena tahu itu untuk kebaikannya. Begitu pula dengan musibah, ia mungkin terasa menyakitkan, tapi sejatinya membawa keselamatan di akhirat,” jelasnya.

Habib Umar menegaskan, penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan tidak ada atau tidak peduli. Sebaliknya, ujian hidup adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang terpilih untuk naik derajat. “Anak-anak Palestina bukan hilang sia-sia. Mereka lebih dulu sampai ke tempat yang penuh kasih. Sementara kita masih diuji di dunia,” tuturnya.

Menurut beliau, kasih sayang Allah tidak bisa diukur dari panjangnya usia atau banyaknya harta yang dimiliki seseorang. Segala yang terjadi memiliki nilai spiritual yang dalam jika manusia mau merenunginya. “Kadang yang kita anggap tragedi, di sisi Allah justru kemenangan. Dan yang kita anggap kenikmatan, bisa jadi ujian bagi iman kita,” tambahnya.

Untuk memperjelas makna kehidupan, Habib Umar mengibaratkan manusia seperti seseorang yang terbangun di atas kapal besar di tengah laut. “Orang yang berakal akan bertanya, siapa yang membawaku ke sini, dari mana kapal ini berangkat, dan ke mana tujuannya?” ucapnya. Perumpamaan itu menggambarkan bahwa hidup manusia harus disertai kesadaran akan Sang Pencipta.

Menurut Habib Umar, manusia modern sering kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar dunia tanpa memahami tujuan hidupnya. “Akal diberikan bukan untuk menentang Tuhan, tapi untuk mengenal siapa yang menciptakanmu dan ke mana engkau akan kembali,” ujar ulama yang dikenal sebagai sosok penuh kebijaksanaan itu.

Dalam percakapan tersebut, Deddy juga menyinggung soal toleransi beragama dan kehidupan antarumat di Indonesia. Menjawab hal itu, Habib Umar menegaskan bahwa Islam tidak mengenal paksaan dalam urusan keyakinan. “Tidak ada paksaan dalam agama. Tapi bukan berarti berhenti berdakwah. Jelaskan dengan perilaku, bukan tekanan. Itulah cara Rasulullah mengajak manusia,” ujarnya.

BACA JUGA:Organisasi Islam Indonesia, Muhammadiyah, Masuk 5 Besar Lembaga Agama Terkaya Dunia

Habib Umar menambahkan, Rasulullah SAW hidup berdampingan dengan berbagai golongan, termasuk Yahudi, munafik, dan musyrik, tanpa kehilangan akhlaknya. Beliau selalu mengedepankan kasih sayang dan perjanjian damai dalam berdakwah. “Itulah teladan Islam sejati yang harus dijaga,” lanjutnya dengan penuh ketenangan.

Kategori :