RADARTVNEWS.COM – Skoliosis, penyimpangan atau kelengkungan tulang belakang ke samping, kini menjadi salah satu kekhawatiran utama di kalangan Generasi Z. Seringkali tidak disadari sejak dini, kondisi ini memungkinkan timbulnya keluhan kesehatan serius dan memengaruhi kualitas hidup dalam jangka panjang.
Apa Itu Skoliosis?Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang membuatnya melengkung ke arah samping membentuk huruf S atau C jika dilihat dari belakang. Berbeda dengan postur tulang belakang normal yang lurus, skoliosis dapat menyebabkan ketidakseimbangan pada bahu, pinggang, atau punggung secara keseluruhan. Dokter Spesialis Orthopedi menyatakan bahwa skoliosis bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan faktor risiko meningkat terutama selama masa pertumbuhan pesat. Ciri-Ciri Skoliosis yang Perlu Dicermati
Beberapa tanda skoliosis yang harus diwaspadai antara lain:
1. Bahu terlihat tidak sejajar, salah satu lebih tinggi.
2. Tulang belikat muncul menonjol di salah satu sisi.
3. Pinggang tampak asimetris atau tidak rata.
4. Salah satu sisi tubuh, seperti pinggul, terasa lebih menonjol atau tinggi.
5. Nyeri punggung atau rasa tidak nyaman tanpa sebab jelas.
6. Seringkali postur tubuh terlihat miring. Penting untuk melakukan pemeriksaan medis jika gejala tersebut muncul, karena deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif. Penyebab Skoliosis
Mayoritas kasus skoliosis bersifat idiopatik, artinya penyebab pastinya belum dapat dipastikan. Namun, beberapa faktor diketahui berkontribusi seperti:
1. Faktor genetik yang berperan dalam risiko familial.
2. Kelainan bawaan saat lahir pada tulang belakang.
3. Penyakit neuromuskular seperti poliomielitis atau cerebral palsy.
4. Cedera atau infeksi pada tulang belakang.
5. Terlalu sering menggunakan totebag daripada ransel. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi skoliosis di Indonesia meningkat, terutama dikalangan remaja usia sekolah. Cara Mengatasi dan Mencegah Skoliosis
Penanganan skoliosis sangat bergantung pada tingkat keparahan kelengkungan tulang belakang dan usia pasien. Berikut beberapa langkah yang dianjurkan:
1. Konsultasi Dokter Spesialis: Pemeriksaan menyeluruh dan pemantauan rutin dalam periode pertumbuhan.
2. Terapi Fisik: Latihan khusus seperti latihan Schroth yang fokus pada penguatan otot punggung dan koreksi postur.
3. Penggunaan Korset: Untuk kasus ringan sampai sedang guna menahan kelengkungan dan mencegah memburuknya kondisi.
4. Operasi Bedah: Diperlukan jika kelengkungan sudah parah dan mengancam fungsi organ atau menyebabkan nyeri berat.
5. Pencegahan: Menjaga postur tubuh saat duduk belajar dan bermain gadget, melakukan olahraga teratur (renang, yoga, pilates), serta menghindari membawa beban berat di satu sisi tubuh. Generasi Z diketahui sangat rentan terhadap masalah postur akibat gaya hidup digital yang lebih banyak dihabiskan dalam posisi duduk dan menatap layar gadget. Hal ini memicu keprihatinan para ahli kesehatan untuk edukasi lebih intensif kepada remaja agar lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan tulang belakang. Skoliosis bukan hal yang patut ditakuti secara berlebihan, tetapi harus menjadi perhatian serius. Deteksi dini dan penanganan yang tepat akan membantu mengurangi risiko komplikasi. Generasi Z didorong untuk aktif menjaga postur dan rutin berkonsultasi dengan tenaga medis apabila muncul gejala-gejala skoliosis. Dengan penanganan yang benar, kualitas hidup dan produktivitas tetap bisa terjaga.