Krisis Kesehatan Mental Generasi Z, Ancaman Serius bagi Indonesia Emas 2045

Rabu 24-09-2025,19:44 WIB
Reporter : MG Alfi Sahrin
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM – Generasi Z, kelompok usia lahir antara 1997–2012 yang kini menjadi tulang punggung produktivitas bangsa, menghadapi tantangan serius: meningkatnya krisis kesehatan mental. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat upaya mencapai visi Indonesia Emas 2045 jika tidak segera ditangani.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat kasus gangguan mental emosional pada anak di bawah usia 15 tahun mencapai sekitar 20 juta jiwa. Sementara itu, prevalensi skizofrenia di tingkat rumah tangga naik menjadi 7 per mil penduduk.

Pandemi COVID-19 kemudian memperburuk kondisi dengan memicu isolasi sosial, tekanan ekonomi, serta lonjakan kasus kecemasan dan depresi.

BACA JUGA:Dari Karier hingga Mental Health, Ini Podcast Self-Improvement yang Wajib Didengar

Berdasarkan data Kemendagri, jumlah remaja Indonesia usia 10–19 tahun mencapai 46,2 juta jiwa. Dari jumlah itu, diperkirakan 2,54 juta termasuk ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) dan 16,1 juta ODMK (orang dengan masalah kejiwaan). Jenis gangguan yang dominan adalah kecemasan, ADHD, depresi, masalah perilaku, dan stres pasca-trauma.

Sayangnya, akses terhadap layanan profesional masih rendah. Dari ribuan remaja yang disurvei, hanya 167 orang yang berhasil mendapat konseling.

Data The Conversation (2018) menyebut Indonesia hanya memiliki 773 psikiater dan 451 psikolog klinis untuk lebih dari 260 juta penduduk, mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa. Faktor lain seperti stigma sosial, biaya, dan minimnya kesadaran orang tua memperburuk situasi.

Tekanan sosial juga menjadi pemicu. Studi PISA 2018 mencatat 41 ribu siswa usia 15 tahun di Indonesia mengalami bullying bulanan, menempatkan Indonesia di peringkat kelima tertinggi dari 78 negara.

BACA JUGA:Hidup Itu Simpel: Sederhanakan Gaya Hidup untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik.

Sejumlah kasus tragis—dari Temanggung hingga Tasikmalaya—membuktikan dampak nyata perundungan terhadap kesehatan mental pelajar.

Selain itu, RS Universitas Indonesia menyoroti peran media sosial, tekanan ekonomi, dan standar hidup tinggi yang memperbesar risiko depresi, stres, serta kesulitan fokus pada generasi muda.

Berbagai pakar menekankan perlunya memperluas layanan psikolog di puskesmas, menyediakan hotline krisis, serta membangun sistem pendampingan di sekolah. Yogyakarta disebut sebagai contoh daerah yang berhasil menempatkan psikolog di layanan dasar sejak 2010.

Kategori :