Di tengah segala kekhawatiran, masyarakat tetap menyimpan harapan. Mereka tidak meminta kemewahan—hanya ketersediaan gas yang cukup, harga yang sesuai aturan, dan distribusi yang merata.
“Saya cuma ingin bisa masak buat anak-anak,” ucap Bu Rini, suaranya nyaris tak terdengar, sambil menyalakan kompor darurat berbahan kayu.
Masalah kelangkaan gas mungkin terdengar sepele, namun bagi warga, ini adalah denyut nadi kehidupan sehari-hari. Ini tentang nasi yang tertunda, air mandi yang tak bisa dihangatkan, dan aktivitas rumah tangga yang lumpuh.
Di Lampung Barat, di tengah keluhan dan ketidakpastian, satu hal tetap menyala: harapan agar krisis ini segera berlalu, dan setiap kompor di setiap rumah kembali mengepulkan asa.(*)